Kasus Covid-19 Tembus 3.000, Singapura Bersiap Gunakan Molnupiravir

ANTARA FOTO/ REUTERS/Edgar Su/hp/dj
Pemandangan perahu yang nyaris kosong dekat Merlion Park, saat pariwisata harus menghadapi penurunan curam akibat mewabahnya virus corona (COVID-19), di sepanjang Marina Bay, Singapura, Kamis (26/3/2020).
Penulis: Yuliawati
6/10/2021, 18.15 WIB

Singapura membuat perjanjian dengan produsen obat Merck, Sharp & Dohme (MSD) untuk mendapatkan pasokan Molnupiravir. Saat ini Molnupiravir dalam tahap uji klinis fase tiga untuk mengobati Covid-19.

Molnupiravir dirancang dengan memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus dan akan menjadi obat antivirus oral pertama untuk Covid-19. MSD masih dalam tahap meminta persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

Dari hasil uji klinis sementara, Molnupiravir dapat mengurangi sekitar 50% kemungkinan rawat inap atau kematian untuk pasien yang berisiko penyakit parah dari Covid-19.

"Kesepakatan ini adalah salah satu contoh strategi manajemen pandemi di Singapura dan komitmen pemerintah untuk berinvestasi dalam obat-obatan yang inovatif untuk memerangi pandemi," kata Pang Lai li, direktur pelaksana MSD di Singapura dan Malaysia, dikutip oleh Channel News Asia, Rabu (6/10).

Selain Singapura, Australia merupakan negara yang membeli Molnupiravir. Adapun Thailand, Korea Selatan, Taiwan dan Malaysia masih dalam proses pembicaraan.

Singapura mempercepat langkah penyediaan obat seiring Covid-19 yang mengganas di kawasan tersebut. Pada Selasa (6/10) tercatat tambahan kasus baru 3.486. Pada hari yang sama, sembilan orang lansia meninggal yang berusia antara 64 dan 90.

Mereka terdiri dari enam pria dan tiga perempuan yang merupakan penduduk tetap Singapura. Mereka yang meninggal ini di antaranya empat orang divaksinasi dua dosis, dua divaksinasi satu dosis dan tiga tidak divaksinasi.

"Semua memiliki berbagai kondisi medis yang mendasarinya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang kondisi kesehatan mereka," kata Kementerian Kesehatan Singapura seperti dikutip oleh Strait Times, Rabu (6/10).

Sejak 16 hari terakhir Singapura melaporkan berturut-turut kematian akibat Covid-19. Hingga saat ini, total kematian di negara berpenduduk 5,45 juta menjadi 130.
Adaapun jumlah total kasus di Singapura sekarang mencapai 109.804.

Lonjakan kasus varian Delta ini ditengah vaksinasi di negara tersebut mencapai 85% dari populasi masyarakat. Rasio vaksinasi Covid-19 di Singapura ini yang tertinggi di Asia, seperti tergambar dalam grafik Databoks berikut: 



Terdapat lima klaster penyumbang penularan Covid-19 di Singapura. Klaster terbesar yakni Asrama Tampines dengan total 174 kasus. Kemenkes mengatakan penularan di semua klaster asrama terjadi di antara warga dan tidak ada bukti penyebaran di luar asrama masing-masing.

Selanjutnya klaster panti jompo United Medicare Center di Toa Payoh. Penularan terjadi di antara delapan anggota staf dan enam penghuni panti jompo.

Selain itu, klaster prasekolah Learning Vision di Bandara Changi yang menginfeksi 13 orang termasuk dua anggota staf dan 11 siswa.

Singapura juga mulai menyuntikan booster atau dosis ketiga terutama kepada nakes dan lansia. Sebanyak 600.000 orang yang memenuhi syarat telah diundang untuk menerima dosis booster.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan