Fenomena 'Nepo Kids' , Salah Satu Pemicu Kemarahan dan Demonstrasi Nepal

TikTok, Katadata/Desy Setyowati
Demo berakhir ricuh di Nepal
12/9/2025, 18.27 WIB

Demonstrasi berdarah yang berujung kerusuhan di Nepal mengakibatan pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli tumbang. Dalam sejumlah pemberitaan, gelombang demonstrasi yang dimotori generasi Z itu dipicu pemblokiran media sosial.

Meski demikian, pemblokiran bukan satu-satunya pemicu ledakan demosntrasi. Sebelumnya, Generasi Z dan masyarakat Nepal menyoroti kesulitan ekonomi dan ketidakadilan di negara yang berada di kaki Pegunungan Himalaya tersebut.

Tak hanya itu, mereka menyoroti fenomena 'nepo kids'. Ini adalah fenomena kemunculan sosok kehidupan mewah keluarga dan anak-anak politikus dan pegawai negeri sipil yang korup di media sosial.

Dikutip dari Al Jazeera, sejumlah aktivis dan pakar menyoroti munculnya persepsi bahwa keluarga dari elit kerap terlihat hidup bermewah-mewahan. Hal ini berkebalikan dengan masyarakat Nepal yang mayoritas hidup miskin.

Politikus dan pejabat Nepal kerap menghadapi tuduhan korupsi yang merajalela hingga ketidakjelasan bagaimana uang publik dibelanjakan. Banyak pula pertanyaan apakah uang masyarakat  digunakan untuk mendanai gaya hidup mewah keluarga pejabat.

Beberapa video di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram menunjukkan keluarga pejabat pemerintah dan menteri bepergian atau berpose di samping mobil mahal dan mengenakan merek desainer ternama.

"Kemarahan atas 'nepo kids' di Nepal mencerminkan frustrasi publik yang mendalam," kata Yog Raj Lamichhane, asisten profesor di Sekolah Bisnis Universitas Pokhara Nepal dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (12/9).

 Lamichhane mengatakan hal yang membuat masyarakat marah adalah bagaimana orang tua 'nepo kids' dahulunya merupakan kader partai yang hidup secara sederhana. “Kini memamerkan gaya hidup mewah seperti tokoh-tokoh mapan,” ujar Lamichhane.

Awal pekan ini, sebuah video di TikTok menampilkan foto Sayuj Parajuli, putra mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal Gopal Parajuli, berpose di samping mobil dan di restoran mewah.

 "Terang-terangan memamerkan mobil dan jam tangan mewah di media sosial. Bukankah kita sudah bosan dengan mereka?" tulis keterangan dalam video tersebut.

Video lain menampilkan foto Saugat Thapa, putra Bindu Kumar Thapa, Menteri Hukum dan Urusan Parlemen di pemerintahan Oli dengan pose serupa.

Dipesh Karki, asisten profesor di Sekolah Manajemen Universitas Kathmandu, mengatakan kekayaan, bisnis, hingga peluang pendidikan, sebagian besar terkonsentrasi di kalangan keluarga elit, terutama mereka yang memiliki koneksi politik. “Anak-anak politikus hidup dari dividen politik.” kata Karki.

Nepal merupakan negara dengan PDB per kapita sekitar $1.400, terendah di Asia Selatan. Tingkat kemiskinan negara tersebut berada di atas 20 persen dalam beberapa tahun terakhir.

 Dari data Bank Dunia, persentase pemuda Nepal yang menganggur dan tidak melanjutkan pendidikan mencapai 32,6 persen pada tahun 2024. Angka ini lebih rendah dari tetangganya, India yang memiliki rasio 23,5 persen.

 Kondisi ini memaksa sejumlah penduduk mencari penghasilan di negara lain. Pada 2021, sebanyak 7,5 persen penduduk Nepal tinggal di luar negeri dan mengirimkan remitensi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.