Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Ketiga ke Teluk Persia
Amerika Serikat mengirimkan kapal induk ketiga mereka, USS George H.W. Bush, ke Timur Tengah pada Selasa (31/3). Pengiriman kapal tersebut dikawal oleh kapal perusak rudal pemandu atau Arleigh Burke-class destroyer.
Dilansir dari Bloomberg, USS George H.W. Bush dikirimkan setelah pemerintah Amerika Serikat menginstruksikan USS Gerald R Ford berangkat ke wilayah yang sama belum lama ini. Adapun USS Ford merupakan kapal perang induk termahal milik Negeri Abang Sam, yakni senilai US$ 13,2 miliar atau Rp 244,38 triliun.
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump menargetkan perang di Iran akan berakhir pada bulan ini atau selambatnya pekan ketiga April 2026. Sebab, Trump mengklaim pihaknya telah meraih tujuan militer di Tanah Persia.
"Saya prediksi dalam dua pekan atau mungkin tiga pekan perang dengan Iran akan berakhir. Mungkin berakhir dalam tiga pekan. Kami akan pergi dari sana karena tidak ada alasan untuk kami berperang," kata Trump di Gedung Putih, Selasa (31/3).
Trump mengatakan AS dan Iran tak memerlukan perjanjian tersebut tidak dibutuhkan lantaran Iran sudah tidak akan bisa meraih senjata nuklir dan rezim pemerintahan saat ini dianggap sudah lebih baik.
Trump mengatakan pergantian rezim pemerintahan Iran bukan tujuan utama agresi militer ke Tanah Persia. Menurutnya, tujuan utama agresi militer pihaknya adalah menggagalkan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan tugas tentara Amerika Serikat saat ini adalah mempertahankan tekanan militer di Tanah Persia. Langkah tersebut bertujuan agar pemerintah Iran mencapai kesepakatan diplomatis dengan Negeri Abang Sam.
Hegseth menentukan fokus utama pihaknya adalah negosiasi mengakhiri perang dengan pemerintah Iran. Menurutnya, perundingan yang dipimpin oleh Utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Menantu Presiden Trump Jared Kushner telah memiliki perkembangan.
"Perundingan tersebut sangat nyata, sedang berlangsung, aktif, dan saya pikir kita mendapatkan kekuatan dalam perundingan tersebut," kata Hegseth.
Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis wacana terjadinya negosiasi antara pihaknya dengan Amerika Serikat. Walau demikian, Araghchi mengkonfirmasi telah mendapatkan pesan langsung dari Witkoff.
Araghchi mengatakan diterimanya pesan Witkoff tidak sama dengan berlangsungnya proses negosiasi. Selain itu, pemerintah Iran belum memberikan respon sama sekali terkait proposal 15 poin dari Amerika Serikat.
"Tidak ada negosiasi yang terjadi dan laporan terkait negosiasi dengan Amerika Serikat tidak akurat," kata Araghchi.
Araghchi menyampaikan pihaknya tidak memiliki kepercayaan terhadap pemerintah Amerika Serikat. Hal tersebut ditunjukkan dengan dua pengalaman negosiasi pada bulan lalu, 2025, dan 2018.
Iran Ancam Rudal Kantor Raksasa Teknologi AS di Teluk
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga mengancam untuk menyerang perusahaan asal AS di kawasan Teluk Persia. Serangan tersebut dapat terjadi secepatnya pukul 20.00 waktu Teheran, Iran, Rabu (1/4).
Serangan tersebut akan dilakukan jika pimpinan Iran terus tewas dalam konflik. IRGC menilai perusahaan teknologi yang menjadi sasaran secara langsung berkontribusi dalam perencanaan operasi militer milik Amerika Serikat terhadap Iran.
"Perusahaan ini dapat mengasumsikan hancurnya fasilitas mereka dalam respon setiap aksi teror di Iran," tulis keterangan resmi IRGC seperti dilansir dari WION, Rabu (1/4).
Secara rinci, beberapa perusahaan teknologi asal Negeri Abang Sam yang dimaksud adalah Cisco, HP, Intel, Oracle, Microsoft, Apple, Google, Meta, IBM, Dell, Palantir, Nvidia, Tesla, dan Boeing.
Ancaman penyerangan tersebut dilayangkan pasca tewasnya Kepala Urusan Perencanaan dan Keuangan IRGC, Brigadir Jenderal Jamshid Eshagi.
AS sebelumnya telah memberikan sanksi pada Eshagi pada 2025 atas dugaan membantu pengiriman minyak mentah ke Cina. Selain itu, Eshagi disangka membantu kelompok bersenjata di kawasan, seperti Hizbollah, Hamas, an Houthis.
IRGC telah mengimbau seluruh karyawan dan masyarakat yang tinggal dalam radius 1 kilometer sekitar kantor milik Amerika Serikat untuk melakukan evakuasi.