Terus Tekan Iran soal Nuklir, Trump Tak Peduli Ekonomi Rakyat AS Kian Mencekik

Youtube The White House
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidato nasional mengenai perkembangan perang di Iran, beberapa waktu lalu.
Penulis: Ahmad Islamy
16/5/2026, 14.59 WIB

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa ia tidak mempertimbangkan kondisi keuangan rakyatnya di tengah upaya negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Trump menegaskan, fokus utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Jumat (15/5) waktu setempat, Trump menilai sikapnya tersebut sudah tepat dan pernyataan itu tidak akan ia tarik kembali. 

"Itu pernyataan yang sempurna, saya akan mengatakannya lagi," ujar Trump kepada jurnalis Fox, Bret Baier.

Sebelumnya, Trump pada Selasa (12/5) lalu juga mengatakan kepada wartawan bahwa dia sama sekali tidak memikirkan kondisi ekonomi warga Amerika saat bernegosiasi dengan Iran terkait konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. 

"Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika, saya tidak memikirkan siapa pun. Saya hanya memikirkan satu hal: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Pernyataan tersebut memicu kritik luas dari Partai Demokrat. Sementara sejumlah politisi Partai Republik berupaya membela sikap Trump. Kritik muncul di tengah meningkatnya harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam wawancara yang direkam saat kunjungannya ke Cina, Trump mengakui bahwa akan ada "rasa sakit" jangka pendek selama proses negosiasi penghentian perang Iran berlangsung dan upaya pembukaan kembali Selat Hormuz dilakukan.

Blokade di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, telah mendorong lonjakan harga energi global. Trump bahkan mengatakan ia tak ambil pusing dengan kenaikan harga BBM jika hal itu membantu Amerika Serikat mencapai tujuannya dalam konflik Iran.

Ia menegaskan, kenaikan harga energi hanya bersifat sementara.

"Ketika Anda mengatakan kepada seseorang bahwa mereka harus membayar bensin sedikit lebih mahal untuk waktu yang sangat singkat, karena kami ingin menghentikan ancaman dihancurkan oleh orang gila yang menggunakan senjata nuklir, semua orang akan bilang itu tidak masalah," ujar Trump.

Data dari American Automobile Association menunjukkan, harga bensin di AS telah naik sekitar 50% sejak Washington dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Rata-rata harga nasional kini mencapai lebih dari US$ 4,50 per galon.

Trump optimistis harga bahan bakar akan kembali turun setelah blokade di Selat Hormuz berakhir. Menurut dia, banyak kapal tanker yang sudah siap menyalurkan minyak begitu konflik mereda.

"Jangan lupa, mereka punya banyak kapal yang sudah penuh dengan minyak dan akan segera mengirimkannya begitu ini selesai. Saya pikir ini akan berakhir cepat," ujar Trump.

Di tengah kenaikan harga bensin dan menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya, Partai Republik kini menghadapi tekanan politik menjelang pemilu sela November mendatang. Namun Trump juga menegaskan jika dirinya tidak mempertimbangkan faktor elektoral dalam kebijakan terhadap Iran. 

"Saya tidak akan membiarkan pemilu menentukan apa yang akan terjadi terkait Iran, karena mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.