Serangan pesawat tak berawak atau drone menyebabkan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab atau UEA pada Minggu waktu setempat (17/5). Sementara itu, Arab Saudi melaporkan telah mencegat tiga drone, di tengah gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran.

Para pejabat UEA mengatakan, mereka sedang menyelidiki sumber serangan tersebut. Seorang penasihat diplomatik presiden UEA menyampaikan hal ini merupakan eskalasi yang berbahaya, baik dilakukan oleh ‘pelaku utama’ maupun salah satu proksinya.

Kementerian pertahanan UEA mengatakan dua drone lainnya ‘berhasil’ ditangani. Mereka mengatakan, drone diluncurkan dari ‘perbatasan barat’, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Drone yang berhasil menembus pertahanan UEA menghantam generator listrik di luar perimeter dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah, kata Kantor Media Abu Dhabi. Tingkat keselamatan radiologis tidak terpengaruh dan tidak ada korban luka.

Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA kemudian mengonfirmasi bahwa pembangkit tersebut tetap aman, tanpa adanya material radioaktif yang dilepaskan imbas serangan.

Badan Energi Atom Internasional mengatakan generator diesel darurat menyediakan daya untuk ‘unit 3’ pembangkit tersebut. “Ada pengekangan militer maksimum di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir mana pun,” kata instansi dikutip dari Reuters pada Senin (18/5), seraya menambahkan bahwa mereka mengikuti situasi ini dengan cermat.

Sementara itu, Arab Saudi mengatakan tiga drone yang dicegat masuk dari wilayah udara Irak. Pemerintah memperingatkan bahwa mereka akan mengambil langkah-langkah operasional yang diperlukan untuk menanggapi setiap upaya untuk melanggar kedaulatan dan keamanannya.

Meskipun permusuhan selama konflik Iran sebagian besar telah berkurang sejak gencatan senjata diberlakukan pada April, drone telah diluncurkan dari Irak menuju negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Kuwait.

Selama perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Iran telah berulang kali menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lainnya yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, menyerang lokasi yang mencakup infrastruktur sipil dan energi.

Iran meningkatkan serangan tersebut terhadap UEA awal bulan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan misi angkatan laut untuk mencoba membuka Selat Hormuz, yang kemudian ditangguhkan Trump setelah 48 jam.

Sementara itu, lebih dari lima minggu setelah gencatan senjata yang rapuh dalam konflik tersebut berlaku, tuntutan AS dan Iran tetap jauh berbeda meskipun ada upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat tersebut, jalur pengiriman terpenting di dunia untuk minyak dan gas.

Washington telah menyerukan agar Teheran membongkar program nuklirnya dan mencabut kendalinya atas selat tersebut. Iran telah menuntut kompensasi atas kerusakan perang, penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan penghentian pertempuran di semua lini, termasuk di Lebanon, tempat Israel memerangi Hizbullah yang didukung Iran.

"Bagi Iran, Waktu Terus Berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!” kata Trump unggahan di Truth Social.

Trump diperkirakan bertemu dengan para penasihat keamanan nasional terkemuka pada Selasa (19/5) untuk membahas opsi tindakan militer terkait Iran.

Seorang juru bicara senior angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi pun merespons ancaman Presiden AS. “Jika ancaman Trump dilaksanakan, maka AS akan menghadapi skenario baru, agresif, dan mengejutkan, dan tenggelam dalam rawa yang dibuat sendiri,” kata dia pada Minggu (17/5).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.