EDISI KHUSUS | Jelajah Jalan Raya Pos

Banyak cerita saat perjalanan. Satu kali pernah terlambat mengirim bahan tulisan untuk editor di Jakarta karena jalan beregelombang. Goyangan kendaraan tak terhindari dan tombol enter pada keyboard tak sengaja tertekan. Sekejap file foto dan artikel tulisan hilang begitu saja.

Melihat Panarukan yang Perlahan Terlupakan (Muhammad Zaenuddin|Katadata) 

Jalur Daendels ini berakhir titik 1.000 Kilometer di Panarukan. Ketika itu tidak dibangun hingga Banyuwangi. Pada masa itu, Besuki -sebuah daerah di dekat Panarukan- diyakini memilki potensi hasil kopi, gula dengan nila kualitas ekspor. Selain itu sebagai pendaratan pasukan Inggris di perairan Selat Madura, Jawa Timur.

Siang bolong saat tim mendarat di Stasiun Panarukan terlihat bahwa pembangunan jalan yang sempat membawa perubahan besar di sana, terutama pada pertumbuhan ekonomi, hampir tak terlihat lagi. Masyarakat lebih banyak menanam tembakau daripada tebu. Tak seidkit pula yang memilih untuk membuka warung klontong dan sembako..

Melihat Panarukan yang Perlahan Terlupakan (Muhammad Zaenuddin|Katadata)

Bangunan-bangunan kuno sisa masa penjajahan juga tak terawat dengan baik. Lumbung Gula yang pernah berjaya pada masanya, sebagai contoh, kini hanya tersisa tembok-tembok yang tak beratap. Begitu pula nasib Stasiun Panarukan. Di sana terdapat meja billiard dan sofa-sofa tak bertuan, seperti pernah ada kehidupan namun terlupakan.

Upacara Tim Jelajah Jalan Raya Pos di Panarukan (Muhammad Zaenuddin|Katadata)
Halaman: