Cerita Warga Terdampak Banjir Sumatra: Kesulitan Beli BBM hingga Terisolasi
Banjir sudah sepekan mengepung sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat. Dampaknya, warga mulai kekurangan stok logistik, terputus akses transportasi, hingga terpaksa mengantre untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).
Salah satu wilayah yang terdampak banjir adalah Kabupaten Bireuen di Aceh. Seorang warga Bireuen, Cut Salma (26) mengatakan, hingga Rabu (3/12) akses untuk keluar dari kabupaten masih terputus karena dampak banjir dan longsor sejak Rabu (26-11).
Salma menjelaskan, Bireuen merupakan penghubung Kota Banda Aceh dengan Kota Medan di Sumatra Utara. Meski demikian, sejumlah akses utama seperti jembatan masih belum pulih seutuhnya hingga kini.
“Jadi kami lumayan terisolasi, tidak bisa keluar dari Kabupaten Bireuen,” kata Salma saat dihubungi Katadata.co.id, Rabu (3/12).
Perlu dua kali sambungan telepon ulang untuk menghubungi Salma. Ia mengatakan, jaringan seluler hingga listrik belum pulih seutuhnya hingga saat ini.
Salma, yang bekerja menjadi staf di salah satu kampus, telah tinggal di Bireuen sejak 2007. Dari kesaksiannya, banjir dan longsor kali ini menjadi yang terparah yang pernah dialaminya.
Salma mengatakan, banjir yang menerjang Bireun memiliki ketinggian setara dada hingga leher orang dewasa. Salah satu desa yang terdampak parah yakni Pante Lhong. Di daerah itu, warga mengungsi ke kantor camat karena rumahnya sudah rata tersapu banjir.
"Kampungnya sudah sepi, karena posisinya rumahnya tidak bisa dihuni lagi," katanya.
Sepekan Bireuen terendam, Salma mengatakan persediaan bahan pokok mulai menipis. Warga pun mulai kekurangan air bersih dan terpaksa menggunakan air dari aliran sawah untuk keperluan sehari-hari.
Dia mengatakan, bantuan dari pemerintah belum merata untuk menjangkau daerahnya tinggal. Bantuan yang ada hanya datang dari swasta maupun individu.
Harga Makanan hingga Bahan Bakar Naik
Salma mengatakan, aktivitas pertokoan sudah mulai beroperasi sejak tiga hari lalu. Namun, harga bahan pokok seperti beras, telur, hingga bahan bakar minyak (BBM) mulai merangkak naik.
“Telur sudah mulai langka. Kalau lagi ada di beberapa tempat, langsung ludes jika harganya terjangkau," kata Salma.
Kenaikan harga sudah terjadi sejak hari pertama Bireuen terendam. Salma menceritakan, warga yang mulai merasa panik lalu membeli persediaan bahan pokok. Begitu pula dengan BBM yang saat ini disebut sangat sulit didapatkan.
Dia mengatakan satu butir telur dihargai Rp 5.000, untuk mie instan berkisar Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per bungkusnya.
Kisah lainnya disampaikan Arif Maulana Azmi (32) yang tinggal Kota Langsa, Aceh. Ia menceritakan perlu waktu berjam-jam untuk mengantre BBM.
“Antre di SPBU sampai lima jam. Ada yang jual eceran, tapi Rp 100.000 per liter,” kata Arif kepada Katadata.co.id, Rabu (3/12).
Arif mengatakan, listrik dan jaringan telekomunikasi mulai padam sejak Rabu (26/11) malam. Sedangkan listrik baru kembali menyala pada Minggu (30/12).
Dampak bencana banjir juga terasa di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tapanuli Tengah Joneri Sihite mengatakan harga bensin eceran bisa mencapai Rp 100 ribu per liter.
Joneri mengatakan harga BBM eceran menjadi tinggi karena mayoritas SPBU di Tapanuli Tengah tak bisa diakses. "Dari tujuh SPBU, hanya tiga yang buka," kata Joneri kepada Katadata.co.id, Rabu (3/12).
Joneri mengatakan, masyarakat bisa menempuh perjalanan selama tiga jam untuk mendapatkan bensin dari SPBU. Tak hanya itu, antrean di SPBU bisa mencapai lima jam karena terbatasnya pasokan.
"Saya sudah minta Pertamina untuk membantu distribusi, khususnya ke (wilayah) perbatasan (Tapanuli Tengah dengan Aceh)," katanya.
Joneri mengatakan, jaringan internet sudah mulai pulih usai lumpuh karena banjir. Meski demikian, beberapa kali pembicaraan Joneri dengan Katadata terputus karena gangguan sinyal. "Internet baru mulai bisa tadi malam," kata politikus Partai Golkar itu.