Bahlil Ungkap Minat Rusia Bangun Storage Minyak di Indonesia

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./kye
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) mendampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kanan) menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menteri ESDM melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri ESDM Rusia kepada Presiden Prabowo Subianto, antara lain mengenai Indonesia akan mendapat pasokan minyak mentah Rusia serta kerja sama pembangunan infrastruktur strategis untuk meningkatkan cadangan dan ketah
16/4/2026, 20.43 WIB

Pemerintah tengah berupaya menggandeng Rusia untuk mengerjakan proyek kerja sama pembangunan kilang dan fasilitas tangki penyimpangan minyak (storage) di Indonesia.

Menteri ESDM atau Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan, rencana pembangunan tangki penyimpangan minyak merupakan salah satu hal yang menjadi topik pembicaraan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada 13 April.

“Pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita. Menyangkut dengan storage merupakan bagian daripada kesepakatan yang kemarin dilakukan.” kata Bahlil di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (16/4).

Pengadaan kilang minyak itu disebut bakal menjadi rencana terpisah dari wacana pembangunan Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban yang digarap oleh PT Pertamina dan perusahaan migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company.

Kedua proyek itu akan berbeda baik dari sisi produk maupun skala. Kapasitas proyek baru ini disebut tidak akan sebesar kilang Tuban yang menghasilkan beragam produk dalam skala besar.

Bahlil menyampaikan pengerjaan kedua proyek itu dilakukan dalam skema kerja sama jangka panjang melalui mekanisme antar pemerintah (G2G) maupun antar pelaku usaha (B2B).

Kucuran nilai investasi pembangunan kilang dan tangki penyimpanan minyak masih dalam tahap pembahasan. “Kalau untuk investasi kilang dan storage itu masih dalam pembahasan angka sedikit lagi selesai,” ujarnya.

Bahlil sebelumnya mengatakan, Indonesia saat ini sudah memiliki investor yang akan membangun proyek storage minyak bumi. Pemerintah memang berencana membangun fasilitas ketahanan energi berkapasitas 90 hari sesuai dengan standar internasional.

Menurut Bahlil, saat ini kapasitas penyimpanan dalam negeri hanya mampu menampung maksimal 25 hari persediaan minyak. “Investasi dan investornya sudah ada, sudah siap,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, bulan lalu (4/3).

Bahlil mengatakan pembangunan storage merupakan satu-satunya strategi yang bisa dilakukan pemerintah agar kapasitas penyimpanan minyak nasional bisa bertambah. Investor proyek ini berasal dari dalam dan luar negeri.

Namun Bahlil menyebut investor ini tidak berasal dari Amerika Serikat (AS). Pembangunan ini juga akan melibatkan pihak swasta. Jenis storage yang akan dibangun pemerintah adalah tempat penyimpanan untuk minyak mentah. Pemerintah saat ini masih mengkalkulasi apakah pembangunan storage juga dilakukan untuk BBM.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu