AS dan Iran Ambil Jalan Berbeda Capai Perdamaian di Tengah Konflik
Pemerintah Amerika Serikat dan Iran mengambil jalan yang berbeda dalam penyelesaian perang di Asia Barat. Negeri Abang Sam berencana untuk terus melakukan blokade laut, sedangkan Tanah Persia menawarkan pembukaan Selat Hormuz kepada tiga negara selain Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Bloomberg, Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mensinyalir akan terus melakukan blokade terhadap kapal menuju atau keluar dari pelabuhan di Iran. Trump berkomitmen tidak akan menghentikan blokade sampai Iran menyetujui negosiasi damai untuk menghentikan konflik.
"Iran telah memberitahukan kami bahwa mereka dalam titik kehancuran. Sebab, mereka mau membuka Selat Hormuz sesegera mungkin," kata Trump dalam media sosialnya, Truth Social, Selasa (28/4).
Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan tekanan maksimum yang dilakukan pihaknya telah mempercepat laju inflasi di Iran. Pada saat yang sama, blokade telah mengikis kapasitas penyimpanan minyak mentah di Tanah Persia.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah memulai diskusi dengan mediator global dari tiga negara, yakni Oman, Pakistan, dan Rusia. Diskusi tersebut terjadi selama tiga hari sejak akhir pekan lalu, Sabtu (25/4).
Araghchi tercatat tiba di Islamabad, Pakistan pada akhir pekan lalu, Sabtu (25/4), dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Pada hari yang sama, Araghchi bertolak ke Ibu Kota Oman, Muskat.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, Araghchi bertemu dengan pejabat intelijen dari beberapa negara dalam kunjungannya di Muskat. Inti dialog antara Araghchi dan beberapa perwakilan Negara Teluk di Muskat adalah jaminan keamanan kawasan dan kerangka kerja kemungkinan kesepakatan damai.
Araghchi menilai Pakistan telah memainkan peran penting dalam negosiasi antara pihaknya dan Amerika Serikat. Namun Araghchi menilai kesepakatan damai belum kunjung tercapai akibat respons Negeri Abang Sam terhadap beberapa objektif.
"Amerika Serikat memilih pendekatan yang salah dan mengajukan permintaan yang berlebihan," kata Araghchi.
Araghchi kembali tiba di Islamabad, Pakistan keesokan harinya, Minggu (26/4), untuk mengirimkan proposal damai terbaru ke Amerika Serikat melalui mediator asal Negeri Permata Timur. Kunjungan terakhir Araghchi adalah ke Moscow, Rusia untuk menemui Presiden Rusia Vladimir Putin awal pekan ini, Senin (27/4).
Araghchi mengatakan tujuan kunjungannya ke Negeri Beruang Merah adalah berkonsultasi tentang isu regional dan internasional. Menurutnya, pertemuan dengan Putin merupakan peluang baik untuk membicarakan perkembangan konflik antara negaranya dan Amerika Serikat.
"Saya percaya konsultasi dan koordinasi antara kedua negara ini terkait perang dengan Amerika Serikat dan evaluasi situasi terakhir akan menjadi hal yang penting," katanya.
Putin mengatakan warga Iran telah melakukan perlawanan untuk kemerdekaan dan kedaulatan dengan berani. "Kami akan melakukan yang kami bisa untuk membantu kepentingan Iran dan masyarakat di kawasan agar perdamaian bisa diraih secepat mungkin," kata Putin.