Enam Provinsi Darurat Karhutla, Operasi Rekayasa Hujan Terganjal Awan Hujan

ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/agr
Relawan damkar menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (9/8/2026). BMKG Kalimantan Barat mencatat hasil pantauan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar selama periode 8 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB menunjukkan terdapat 3.242 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di 14 kabupaten di provinsi setempat antara lain Ketapang, Sanggau, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
10/8/2026, 17.31 WIB

Pemerintah menyiapkan operasi udara untuk rekayasa hujan buatan di enam provinsi yang masuk kategori kritis kebakaran hutan bulan ini. Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Operasi rekayasa hujan buatan ini terkendala minimnya awan hujan. Awan hujan menjadi penting lantaran mayoritas daratan dalam keenam provinsi tersebut merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengharapkan munculnya awan hujan dalam sepekan ke depan. "Wilayah hutan yang terbakar di dalam negeri sampai hari ini mencapai 107.000 hektare. Operasi udara adalah upaya yang paling tepat, namun harus ada awan hujan agar operasi berjalan," kata Djamari dalam konferensi pers di kantornya, Senin (10/8).

Operasi udara untuk melakukan rekayasa hujan buatan akan sangat bergantung pada keberadaan awan hujan. Pemerintah telah menyiapkan 43 helikopter dan hingga 15 pesawat bersayap tetap untuk melakukan operasi udara tersebut.

Teknologi modifikasi cuaca atau TMC hanya mempercepat proses hujan dengan menaburkan garam pada awan hujan. Menurutnya, penurunan hujan di enam provinsi menjadi penting lantaran musim kemarau yang dimulai bulan ini diperburuk dengan timbulnya El Nino kuat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendata suhu indeks bulanan Nino 3,4 telah menembus angka 1,56 pada akhir Juni 2026. Dengan kata lain, intensitas El Nino berada dalam kategori kuat karena telah menembus ambang batas 1,5.

BMKG menyatakan ancaman kemarau kering diperburuk dengan munculnya 5.019 titik panas hingga akhir Juli 2026. Mayoritas titik panas berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.

Otoritas memprediksi tingkat kebakaran hutan dan lahan akan memuncak pada Agustus-September 2026 di enam provinsi rawan karhutla. Djamari mencatat awan hujan di keenam provinsi tersebut hanya akan muncul selama 3-4 hari hingga 18 Agustus 2026 pada bulan ini.

Karena itu, Djamari menyampaikan pemerintah menyiapkan mitigasi karhutla melalui operasi darat. "Kami masih akan menggunakan flexible tank untuk diisi dengan air. Kami bahkan bisa membuat sumur buatan yang secara langsung dapat mengeluarkan air di titik-titik rawan karhutla," ujarnya.

Terakhir, Djamari menyampaikan Kementerian Lingkungan Hidup akan menyebarkan edaran yang melarang pembakaran lahan sebagai metode pembukaan lahan. Menurutnya, saat ini ada dua pemerintah daerah yang mengizinkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran lahan maksimal 2 hektare, yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Djamari menekankan pemerintah akan meningkatkan intensitas penegakan hukum pada bulan ini untuk melarang pembakaran lahan di enam provinsi kritis. Menurutnya, pelarangan sementara tersebut sudah didiskusikan dengan para pemerintah daerah.

"Upaya pencegahan selain operasi darat adalah penegakan hukum. Begitu ada pelanggaran, segera diberikan sanksi," ujarnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto mengatakan awan hujan merupakan satu-satunya cara untuk mencegah maupun menangani karhutla di enam provinsi kritis. Sebab, lahan gambut di seluruh provinsi tersebut membuat konsumsi air untuk mencegah maupun menangani karhutla cukup banyak.

Suharyanto menghitung kapasitas tampung air dalam setiap helikopter hanya mencapai empat ton. Sementara itu, jumlah helikopter yang dikirimkan dalam waktu bersamaan hanya tiga unit.

"Berarti, air yang dijatuhkan kepada api hanya 12 ton. Kalau terjadi karhutla di lahan gambut, air tersebut hanya bisa memadamkan api di area seluas 10 meter persegi," katanya.

Suharyanto mengatakan pemadaman api dengan helikopter hanya dapat dilakukan pada kawasan dengan lahan mineral, seperti Gunung Bromo dan Nusa Tenggara Timur. Karena itu, karhutla di enam provinsi kritis saat ini masih dilengkapi dengan upaya penyiraman air oleh pasukan darat.

Karena itu, Suharyanto berharap agar awan hujan dapat muncul sebelum 18 Agustus 2026 agar pihaknya dapat melakukan TMC. Menurutnya, seluruh armada pesawat kini dalam status siaga untuk memanfaatkan awan hujan dengan segera. "Enam provinsi ini dalam status darurat Karhutla semua," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief