Nusron Wahid Disebut Sudah Mundur dari Kepengurusan Partai Golkar
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/tom.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar menyatakan Nusron Wahid sudah mengundurkan diri dari kepengurusan partai berlambang pohon beringin tersebut. Sekretaris Jenderal Partai Golkar M Sarmuji bahkan mengatakan Nusron sudah mundur sejak beberapa bulan lalu.
Nusron Wahid sebelumnya menjabat Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar. Sarmuji mengatakan, kini Nusron sudah menjadi kader biasa di partainya.
"Sudah lama (mundur). Seingat saya lebih dari enam bulan lalu," kata Sarmuji pada Sabtu (19/9) dikutip dari Antara.
Sarmuji mengatakan, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) itu mengajukan langsung pengunduran dirinya kepada Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Namun, ia tak mengetahui apa alasan Nusron mengundurkan diri. "Mungkin ingin fokus ke hal lain," katanya.
Nama Nusron belakangan ini menjadi sorotan usai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan sejumlah pejabat Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN). Penangkapan dilakukan terkait dugaan suap Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk.
Nusron juga sempat tak muncul di depan publik saat kantornya digeledah KPK pada Kamis (17/9). KPK juga sebelumnya menduga empat dari delapan tersangka dalam kasus tersebut adalah orang kepercayaan Nusron.
Mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) itu akhirnya muncul di depan awak media pada Jumat (18/9). Dalam pernyataannya, Nusron berencana untuk mengikuti dan membantu proses penegakan hukum yang dilakukan KPK saat ini. Namun ia mengklaim tidak mengetahui kasus tersebut.
"Kami ikuti prosesnya dan kami serahkan sepenuhnya kepada KPK sebagai aparat penegak hukum," kata Nusron di kantornya, Jumat (18/9).
Reporter: Antara