Belanja Online di Indonesia Hampir Rp1.000 Triliun, Tumbuh Paling Kecil Se-ASEAN
Nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) e-commerce di Indonesia diperkirakan US$ 57,7 miliar atau Rp 989,6 triliun (kurs Rp 17.150 per US$) tahun lalu, menurut laporan Momentum Works. Meski nilai belanja online di Tanah Air yang tertinggi di Asia Tenggara, namun pertumbuhannya merupakan yang terkecil.
GMV e-commerce di Indonesia itu diperkirakan hanya tumbuh 2,2% secara tahunan alias year on year (yoy), dari US$ 56,5 miliar pada 2024 menjadi US$ 57,7 miliar tahun lalu.
Padahal, sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara mencatatkan pertumbuhan di atas 10%. “Thailand dan Malaysia memimpin pertumbuhan, masing-masing 51,8% dan 47,6%,” demikian dikutip dari keterangan pers Momentum Works, Selasa (14/4). Rinciannya sebagai berikut:
Momentum Works yang berbasis di Singapura, menilai bahwa pertumbuhan GMV e-commerce di Indonesia hanya tumbuh 2,2% karena Bukalapak yang beralih fokus dan rasionalisasi GMV Tokopedia.
“Nilai transaksi Shopee dan TikTok Shop di Indonesia secara gabungan turun 36%,” demikian dikutip.
Di Indonesia, Shopee masih memimpin dengan pangsa pasar 54%. Disusul Tokopedia dan TikTok Shop 38%.
Secara keseluruhan, GMV platform e-commerce Asia Tenggara tumbuh 22,8% menjadi US$ 157,6 miliar. Hal ini seiring platform-platform utama kembali tumbuh, sambil terus meningkatkan infrastruktur, pemenuhan pesanan, dan pengalaman pelanggan.
“Namun, di luar pertumbuhan yang terlihat di permukaan, industri ini memasuki fase baru yakni persaingan bukan lagi tentang ekspansi, tetapi semakin tentang kontrol atas peningkatan permintaan, pemenuhan pesanan, dan margin keuntungan,” demikian dikutip.
Terlepas dari persaingan yang ketat, sebagian besar keterjangkauan harga di e-commerce Asia Tenggara saat ini masih didorong oleh subsidi, voucer, dan diskon yang didanai oleh platform, penjual, dan merek, bukan karena biaya struktural yang lebih rendah.