Kinerja Bisnis Facebook Jeblok, Jauh Tertinggal dari Google

Anton/pexels.com
Tampilan Facebook di Smartphone
Editor: Yuliawati
3/2/2022, 13.20 WIB

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Google mencatatkan rekor baru pendapatannya US$ 257 miliar atau Rp 3.695 triliun selama 2021. Namun, raksasa teknologi AS lainnya Facebook mencatatkan kinerja bisnis yang mengecewakan.

Dikutip dari CNN Internasional, induk Facebook, Meta memang mencatatkan total pendapatan US$ 118 miliar atau Rp 1.696 triliun selama 2021.

Namun, dalam satu kuartal, pendapatan Meta meleset dari perkiraan Refinitiv. Meta hanya mencatatkan pendapatan US$ 27 miliar atau Rp 388 triliun, sementara Refinitiv memperkirakan pendapatan Meta US$ 30,1 miliar atau Rp 432 triliun.

Per kuartal IV, laba bersih perusahaan juga turun 8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 10,3 miliar atau sekitar Rp 148 triliun.  

Alhasil, saham Meta di perdagangan (3/2) sempat anjlok 23%. "Investor akan melihat angka-angka ini dengan cermat sebagai indikator pertama seberapa jauh metaverse menguntungkan," kata global chief digital officer Mindshare Worldwide Tom Johnson dikutip dari CNN Internasional pada Kamis (3/2).

Kinerja bisnis Meta selama 2021 memang tidak terlepas dari upaya perusahaan yang fokus pada metaverse. Laba perusahaan anjlok pun terjadi karena Meta gencar berinvestasi ke dalam teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).

Tahun lalu, Meta mengeluarkan dana US$ 10 miliar atau Rp 143 triliun untuk metaverse. Namun, lini bisnis metaverse masih merugi.

Selain karena metaverse, pendapatan induk Facebook itu terpengaruh kebijakan Apple tahun lalu. Apple menerapkan kebijakan yang berisi persyaratan keikutsertaan aplikasi pada iOS 14 dan iOS 14.5. Produsen iPhone ini mengharuskan pengguna memberikan izin eksplisit kepada aplikasi untuk melacak perilaku dan menjual data pribadi kepada pengiklan.

Data yang dimaksud seperti usia, lokasi, kebiasaan belanja, dan informasi kesehatan. Kebijakan itu dibuat agar perusahaan teknologi memberikan perlindungan privasi yang lebih besar kepada konsumen.

Akibat kebijakan itu, akurasi penargetan iklan Facebook menurun. Pendapatan lini iklan Meta pun melambat tahun lalu.

Berbeda dengan pesaingnya Google yang mencatatkan rekor pendapatan baru pada 2021. Induk Google, Alphabet mencatatkan peningkatan pendapatan 41% menjadi $257 miliar atau Rp 3.695 triliun selama 2021.

Pendapatan iklan Google tahun lalu tidak seperti Facebook yang terpengaruh kebijakan Apple. Sebab Google bisa mengumpulkan data penargetan iklan sendiri melalui lalu lintas pencarian dan YouTube. Selama 2021, Google meraih pendapatan US$ 8,63 miliar atau Rp 120 triliun dari bisnis iklan mereka.

"Kami tetap melihat pertumbuhan kuat yang berkelanjutan dalam bisnis periklanan kami,” kata CEO Alphabet Sundar Pichai dikutip dari The Verge pada Rabu (2/2).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan