Perusahaan di Cina Diduga Pakai Spyware Lacak Pegawai Ingin Resign

ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song/hp/cf
Warga memakai masker pelindung terlihat di stasiun kereta Shanghai di Shanghai, menjelang libur 5 hari Hari Buruh, di Cina, Jumat (30/4/2021).
22/2/2022, 13.14 WIB

Sejumlah perusahaan di Cina diduga menggunakan perangkat pengintai (spyware) Sangfor untuk memantau aktivitas pencarian kerja karyawan. Hasilnya, banyak karyawan yang terdeteksi ingin mengundurkan diri (resign).

Pekerja asal Cina berusia 27 tahun Ma misalnya, baru-baru ini mengundurkan diri dari posisinya sebagai editor di perusahaan internet swasta di Beijing. Ia pindah untuk mendapatkan posisi lebih baik di perusahaan media milik negara.

Keputusan Ma ternyata sudah diketahui oleh manajernya. Atasannya mengatakan sudah mencari posisi yang ditinggalkan Ma. Padahal Ma berusaha keras mencegah majikannya mengetahui bahwa dia sedang mencari pekerjaan lain. 

Dia memperbarui resume di rumah menggunakan komputer pribadi. Ia menjadwalkan semua wawancara kerja secara online dan tidak pernah meminta cuti. Ia pun melakukan tugasnya seperti biasa.

“Entah perusahaan saya menggunakan spyware atau tidak. Atau mungkin manajer saya mengetahui aktivitas pencarian kerja  melalui jaringan pribadi,” kata Ma dikutip dari South China Morning Post (SCMP), hari ini (22/2).

Pengguna aplikasi jaringan profesional Maimai.cn mengatakan bahwa ia dipecat setelah perusahaannya mengetahui dirinya melamar pekerjaan lain. Perusahaan ini diketahui menggunakan spyware.

"Bos saya mengatakan dia tahu persis apa yang saya lakukan selama jam kerja," kata pengguna Maimai.cn itu.

Belakangan pun muncul laporan terkait dugaan perusahaan di Cina menggunakan spyware dari Sangfor. Menurut perusahaan analisis data Qichacha, Sangfor mengajukan paten spyware pada 2018.

Spyware itu bekerja dengan cara menganalisis niat pengunduran diri karyawan dan membaca informasi yang mereka kirim ke situs web rekrutmen, platform media sosial, serta sistem email.

Menurut Qichacha, sistem spyware milik Sangfor mampu memata-matai aktivitas online karyawan di kantor untuk memeriksa apakah pegawai memeriksa situs web pekerjaan, mengirim lamaran hingga memberi peringkat pekerja berdasarkan tingkat risiko pengunduran diri.

Sangfor memiliki sekitar 100 ribu klien. Pelanggannya sebagian berasal dari sektor pemerintahan, termasuk administrasi perpajakan negara hingga kantor audit provinsi.

Akibat maraknya penggunaan spyware, banyak pekerja yang percaya bahwa mereka sedang dipantau oleh perusahaan. Tidak hanya saat mencari kerja, aktivitas lainnya pun bisa dipantau.

"Umumnya, komputer yang digunakan pekerja memiliki software keamanan yang diunduh untuk memantau semua tindakan pekerja,” kata seorang programmer yang telah resign dari ByteDance.

Menurutnya, perusahaan dapat sepenuhnya merekam data apa pun tentang pekerja selama terhubung ke intranet.

Tahun lalu, seorang programmer di Pinduoduo dipecat setelah secara anonim mengunggah gambar ambulans yang menunggu di luar gedung perusahaan. Unggahan ini berjudul ‘pria ganas lainnya telah jatuh’.

Meski konten itu diunggah secara anonim, ia tetap ketahuan oleh perusahaan.

Padahal, menurut Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi di Cina, perusahaan harus memberi tahu karyawan tentang aktivitas pemantauan dan mesti mendapatkan persetujuan pekerja terlebih dahulu. Apabila tidak melakukannya, maka perusahaan dianggap melanggar.

"Saya percaya bahwa dengan meningkatnya jumlah kasus pengintaian ini, dapat terlihat lebih jelas di mana batas-batasnya perusahaan dan membantu pekerja dalam melindungi privasi mereka,” kata pengacara dari Huiye Law Firm Shi Yuhang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan