Starlink milik Elon Musk menyediakan layanan internet gratis kepada masyarakat Venezuela hingga 3 Februari. Fasilitas cuma-cuma ini diberikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan mengumumkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1).
"Layanan broadband gratis ini untuk memastikan konektivitas tetap terjaga," kata Starlink melalui laman resmi, Minggu (4/1) malam.
Starlink mengatakan fokus perusahaan saat ini menyediakan konektivitas bagi pelanggan baru dan yang sudah ada, guna mendukung masyarakat Venezuela dengan layanan gratis.
Internet gratis otomatis akan tersedia bagi pelanggan aktif. Untuk pengguna yang tidak aktif karena menangguhkan layanan maupun telat atau tak membayar, perlu mengaktifkan kembali akun selama periode ini, jika ingin mendapatkan layanan cuma-cuma.
"Jika sudah memiliki perangkat Starlink, Anda dapat memilih paket Roam (Jelajah) untuk menggunakan Starlink di Venezuela," ujar perusahaan.
Paket Jelajah dirancang untuk pengguna yang sering bepergian. Tersedia dua paket layanan. Pertama, Jelajah 50 GB, yang mencakup kuota 50 GB dengan opsi untuk membeli kuota tambahan per GB. Kedua, Jelajah Tanpa Batas, yang tidak memiliki batas kuota.
Kuota internet 50 GB kira-kira setara dengan 20 jam streaming video resolusi tinggi atau 50 jam panggilan video.
"Kami secara aktif memantau perkembangan kondisi dan persyaratan peraturan. Meskipun kami belum memiliki jadwal ketersediaan pembelian lokal, jika dan ketika ada pembaruan, maka akan dikomunikasikan langsung melalui saluran resmi Starlink," ujar perusahaan.
Elon Musk mengunggah ulang cuitan Starlink terkait layanan internet gratis untuk warga Venezuela melalui akun X, seraya menambahkan teks berbunyi "sebagai dukungan untuk rakyat Venezuela".
Starlink sebelumnya memberikan layanan gratis untuk warga Indonesia di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak akhir November hingga Desember 2025. Hal ini terkait bencana longsor dan banjir bandang.
Kali ini, Starlink memberikan layanan internet gratis bagi warga Venezuela di tengah serangan AS dan penangkapan Presiden Maduro.
Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela sejak Desember 2025. Serangan pertama dilakukan terhadap area dermaga pada 29 Desember 2025, sebagaimana dikutip dari BBC Internasional, Sabtu (3/1).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun mengumumkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1). Ia menuduh pemerintahan Maduro membanjiri AS dengan narkoba dan anggota geng.
Ia menyalahkan Maduro atas kedatangan ratusan ribu migran Venezuela di AS. Tanpa memberikan bukti, Trump menuduh Maduro mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa di Venezuela, dan memaksa para narapidana untuk bermigrasi ke AS.
Trump menetapkan dua kelompok kriminal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO). Ia juga menuduh Maduro memimpin Cartel de los Soles.
Namun, para analis meyebutkan bahwa Cartel de los Soles bukan kelompok hierarkis, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pejabat korup yang telah membiarkan kokain transit melalui Venezuela. Maduro dengan keras membantah tuduhan bahwa dirinya memimpin kartel narkoba. Ia juga menuduh AS menggunakan istilah 'perang melawan narkoba' sebagai dalih untuk menggulingkan dirinya.
Menurut Maduro, AS ingin menguasai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.