RI Kuasai 40% Ekonomi Digital ASEAN, Berpotensi Jadi Kekuatan Teknologi Global?

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.
Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menjawab pertanyaan dalam program siniar (podcast) saat mengunjungi Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Penulis: Rahayu Subekti
23/6/2026, 21.32 WIB

Indonesia saat ini menjadi pemain terbesar dalam ekonomi digital Asia Tenggara dengan kontribusi sekitar 40% terhadap total ekonomi digital kawasan ASEAN. Bahkan, nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan dapat mencapai US$ 360 miliar atau setara Rp 6.414,8 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

Di tengah peluang itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa besarnya pasar digital tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global. Menurutnya, Indonesia harus mampu membangun ekosistem digital yang kuat agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain mulai dari infrastruktur, talenta, industri, hingga inovasi teknologi.

“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (23/6).

Nezar menegaskan, pembangunan ekosistem digital merupakan bagian penting dari strategi Indonesia Digital 2045. Langkah yang diambil saat ini akan menentukan apakah Indonesia mampu mencapai kemandirian teknologi dalam dua dekade mendatang. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha menjadi faktor krusial.

"Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting," ujarnya.

Belajar dari India

Dalam membangun fondasi ekonomi digital, Indonesia juga didorong untuk belajar dari negara-negara yang telah lebih dahulu berhasil mengembangkan infrastruktur publik digital, salah satunya India.

Nezar menilai keberhasilan India membangun sistem identitas digital Aadhaar dan platform pembayaran digital Unified Payment Interface (UPI) menjadi contoh bagaimana infrastruktur publik digital dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital secara masif.

Menurutnya, sistem yang inklusif tersebut mampu memperluas akses layanan keuangan dan menjadi fondasi berkembangnya berbagai layanan digital. “Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya,” katanya.

Potensi Besar Ekonomi Digital

Selain memperkuat fondasi domestik, Nezar juga menyoroti pentingnya posisi Indonesia dalam rantai pasok global teknologi digital, terutama di bidang kecerdasan buatan atau AI. Ia menilai Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan AI dan belum menempati posisi strategis dalam rantai nilai global teknologi tersebut. Penguasaan teknologi strategis dinilai menjadi syarat penting untuk meningkatkan daya saing nasional.

“Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga untuk diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global. Saya kira ini yang paling penting, global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence,” ujarnya.

Pemerintah memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 105 miliar atau Rp 1.870,9 triliun pada 2025. Lalu berpotensi meningkat hingga US$ 360 miliar atau Rp 6.414,8 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan kontribusi sekitar 40% terhadap ekonomi digital ASEAN, Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Namun, Nezar menegaskan peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pemangku kepentingan mampu membangun kolaborasi yang kuat dan terukur.

"Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kita punya porsi yang sangat besar dari pertumbuhan ekonomi digital kawasan dan itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita bangun di dalam ekosistem digital ini," katanya.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti