Lawan Polusi Udara di Asia, NASA Luncurkan Laboratorium Udara

ANTARA FOTO/REUTERS/Anushree Fadnavis
NASA meluncurkan laboratorium udara untuk melakukan penerbangan yang akan mengidentifikasi sumber dan perilaku polusi di Asia.
Penulis: Hari Widowati
12/2/2024, 13.34 WIB

NASA telah memulai serangkaian penerbangan di seluruh Asia dengan laboratorium terbang kolosalnya, DC-8. Misi ini akan meningkatkan model untuk meramal dan memerangi polusi udara dalam mengidentifikasi sumber dan perilaku polusi, yang berpotensi menghasilkan sistem peringatan dini yang lebih tepat.

Polusi udara merupakan penyebab jutaan kematian setiap tahunnya. Lewat laboratorium udara itu, identifikasi dan prakiraan yang akurat menjadi semakin penting.

Pesawat DC-8 milik badan antariksa Amerika Serikat itu melakukan penerbangan yang berlangsung hingga delapan jam, melayang sedekat 15 meter (50 kaki) dari permukaan tanah untuk mengumpulkan partikel udara untuk dianalisis secara rinci. Misi ini dimulai dari Filipina.

"Kami dapat memberikan pengukuran langsung tentang seberapa banyak polusi yang berasal dari berbagai sumber. Dan itu adalah salah satu masukan utama untuk model prakiraan kualitas udara," ujar Barry Lefer dari NASA, seperti dikutip Wion News, Minggu (11/2).

Menyempurnakan Data Satelit

Meskipun prakiraan kualitas udara saat ini bergantung pada stasiun bumi dan satelit, kedua metode tersebut memiliki keterbatasan dalam mengamati penyebaran polutan. Pengukuran udara NASA bertujuan untuk menjembatani kesenjangan ini, menyempurnakan interpretasi data satelit dan meningkatkan akurasi model prediksi.

Laboratorium udara ini dilengkapi dengan serangkaian instrumen sensitif untuk mengukur polusi udara. Laboratorium terbang NASA telah melakukan pengukuran dengan pola angka delapan di atas wilayah padat penduduk di Filipina, termasuk wilayah ibu kota.

Laboratorium udara ini ditemani oleh pesawat jet Gulfstream NASA yang lebih kecil untuk membuat peta polutan tiga dimensi. Pesawat ini akan memperluas penerbangan penelitian ke Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand pada minggu-minggu berikutnya.

Proyek yang diberi nama ASIA-AQ ini merupakan kolaborasi antara NASA dan pemerintah daerah di wilayah yang memiliki tingkat kematian akibat polusi udara tertinggi di dunia. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dipublikasikan dalam waktu satu tahun, memberikan wawasan yang sangat berharga mengenai dinamika polusi udara yang kompleks di wilayah tersebut.