Panen Perdana Tambak Udang Ramah Iklim Lalombi Hasilkan Lebih dari 50 Ton
Tambak udang vaname berbasis pendekatan Climate Smart Shrimp (CSS) di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah mencatat hasil menggembirakan pada panen perdana. Produksi tambak ramah iklim pertama di Asia ini mencapai lebih dari 50 ton.
Burhanuddin, Fisheries and Aquaculture Program Manager Konservasi Indonesia, mengatakan pendekatan CSS yang mampu meningkatkan produktivitas budi daya udang vaname ini dirancang untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan akibat alih fungsi mangrove dan praktik tambak yang tidak ramah lingkungan.
"CSS mengintegrasikan teknologi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), praktik budi daya berkelanjutan, dan restorasi mangrove sebagai biofilter alami," ujar Burhan, Senin (16/6). Hal ini menghasilkan pendekatan yang seimbang antara peningkatan produksi udang dan pelestarian ekosistem pesisir.
Ia juga menyoroti potensi besar dari restorasi mangrove dalam menyerap karbon dan mendukung ketahanan pangan biru. Untuk restorasi mangrove di area tambak Lalombi, potensi serapan karbon dari restorasi itu bisa mencapai 7,4 ton karbon per hektare per tahun.
“Apabila kami ambil prediksi stok karbon antara 500 sampai 1.083 ton karbon per hektare, kami bisa asumsikan dengan restorasi mangrove seluas 3,5 hektare tersebut, kita akan mendapatkan stok karbon sebesar kurang lebih sekitar 3.700 ton karbon,” ujarnya.
Konservasi Indonesia (KI) meyakini program ini menunjukkan adanya potensi besar antara peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pada ketahanan pangan biru, sekaligus mendukung konservasi lingkungan. Peran dan fungsi dari ekosistem mangrove ini sangat penting untuk keanekaragaman hayati dari biota-biota yang ada di ekosistem tersebut.
"Misalnya kepiting bakau, kemudian beberapa jenis ikan bertelur di ekosistem mangrove sebelum mereka migrasi ke perairan laut. Beberapa nutrisi yang ada di dalam ekosistem mangrove itu merupakan sumber makanan bagi biota-biota ikan yang ada di mangrove itu sendiri,” kata Burhan.
Sistem Pemantau Kualitas Air dan Pelacakan Produksi secara Real Time
Aryo Wirawan, CEO JALA, startup teknologi akuakultur, mengatakan CSS menggunakan sistem pemantauan kualitas air dan pelacakan produksi secara real-time. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data dan transparansi rantai pasok.
JALA berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia dalam meluncurkan program Climate Smart Shrimp Farming (CSSF) pertama di Asia ini sejak Februari lalu.
“Panen perdana tambak CSSF di Lalombi sukses besar dengan hasil mencapai 52 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional," kata Aryo.
Ia menambahkan, udang yang ada di tambak Lalombi tumbuh optimal, berukuran hingga 24 ekor per kilogram, dan memenuhi standar ekspor. "Ini menunjukkan manajemen budi daya yang sangat efektif dan potensi besar untuk pasar internasional,” kata Aryo.
Ia menilai keberhasilan panen pertama CSSF diharapkan menjadi model nasional yang bisa direplikasi di berbagai kawasan pesisir Indonesia. “Sistem ini mampu menjawab tantangan krusial seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketimpangan ekonomi dalam satu pendekatan terpadu,” ungkap Aryo.
Pendekatan Berbasis Alam
Peneliti Riset Karbon Biru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mariska Astrid mengatakan pendekatan berbasis alam dalam menjaga ekosistem pesisir, seperti yang dilakukan di Lalombi, sangat penting. BRIN mengukur kualitas air dan kandungan karbon di tambak dan kawasan mangrove untuk mengevaluasi fungsi filtrasi alami mangrove terhadap limbah tambak. Selain menyaring limbah, mangrove juga menyerap dan menyimpan karbon dalam sedimen, memberikan manfaat ganda (co-benefit) bagi lingkungan.
“Tambak CSS ini adalah tambak udang berbasis alam. Nature-based solutions untuk mendukung budi daya udang yang berkelanjutan. Hasil sampel ini akan kami uji laboratorium terlebih dulu, namun kami optimistis jika dilihat dari aktivitas panen hari ini, tambak udang model seperti ini dapat menyelamatkan ekosistem perairan pesisir,” sebut Astrid.
Dari hasil pengamatan awal terhadap sistem filtrasi alami yang diterapkan, BRIN melihat perbedaan yang spesifik jika dibandingkan dengan panen pada kolam tambak pada umumnya. Air buangan dari panen pada kolam tambak udang yang berbuih karena kandungan kimia dan fosfor, dialirkan melalui IPAL kemudian difiltrasi secara alami oleh mangrove.
"Terbukti nyata dan dapat dilihat buih dari limbah hilang, sehingga air limbah tambak yang sudah jernih ini aman dibuang ke laut,” ujar Astrid.
Keberhasilan panen perdana ini menjadi bukti bahwa pendekatan terpadu antara teknologi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan solusi nyata untuk ketahanan pangan biru dan ekonomi berkelanjutan.