Angka Kehilangan Hutan Tropis Indonesia Naik 14% Saat Capaian Global Menurun

ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/aww.
Indonesia kehilangan 295,6 ribu hektare hutan primer tropis pada 2025, naik 14% dibandingkan dengan angka kehilangan hutan tropis pada 2024.
4/5/2026, 13.25 WIB

Indonesia kehilangan 295,6 ribu hektare hutan primer tropis pada 2025, naik 14% dibandingkan dengan angka kehilangan hutan tropis pada 2024. Sementara, angka kehilangan hutan tropis dunia mereda pada periode tersebut, usai rekor tertinggi pada 2024 akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Data terbaru Laboratorium GLAD University of Maryland yang dirilis Global Forest Watch dan Global Nature Watch milik World Resources Institute (WRI) menunjukkan, angka kehilangan hutan primer tropis dunia turun 36% dibandingkan capaian pada 2024. 

Meski tercatat menurun, dunia masih kehilangan sekitar 4,3 juta hektare hutan primer tropis pada 2025. Jika dibayangkan, laju kehilangan hutan tropis itu setara dengan luas 11 lapangan sepak bola setiap menitnya. 

Angka tersebut juga hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan hilangnya hutan primer tropis pada satu dekade lalu. Hilangnya hutan primer tropis secara terus menerus, dapat mengurangi banyak ‘layanan’ yang diberikan.

“Ekosistem ini sangat penting untuk keanekaragaman hayati, penyediaan air, penyimpanan karbon, pangan dan obat-obatan, identitas budaya, dan banyak lagi,” kata WRI dalam pernyataan resmi di situsnya, pada Senin (4/5).

Penurunan angka kehilangan hutan primer tropis ini paling banyak terjadi di Brasil. Pada 2025, Brasil kehilangan 1,63 juta hektare hutan primer tropis, setelah setahun sebelumnya harus kehilangan 2,83 juta hektare. Artinya, Brasil berhasil menekan hilangnya hutan primer tropis hingga 40% dalam setahun. 

Namun, Brasil masih menduduki posisi tertinggi sebagai negara dengan area kehilangan hutan primer tropis terbesar, mengingat luasnya hutan-hutan di wilayah tersebut.

Sementara itu, angka kehilangan hutan primer tropis Indonesia justru meningkat 14% pada 2025, dibandingkan setahun sebelumnya. Total hutan primer tropis Indonesia yang hilang mencapai 295,6 ribu hektare, dengan 12,7 ribu hektare di antaranya hilang karena kebakaran. 

Sisanya banyak didorong oleh perluasan lahan pertanian, termasuk untuk swasembada pangan di Papua Selatan. Pemicu lainnya adalah perluasan area pertambangan di Sulawesi dan wilayah lainnya, khususnya untuk nikel. 

Meski begitu, sejumlah kebijakan telah diturunkan pemerintah untuk menekan angka hilangnya hutan. Di antaranya, moratorium permanen terhadap izin baru di hutan primer dan lahan gambut, penguatan pencegahan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan, target FOLU Net Sink 2030, serta komitmen sukarela sektor swasta untuk produksi pulp dan minyak kelapa sawit bebas deforestasi.

Janji untuk memperkuat hak atas tanah milik masyarakat adat juga menjadi ciri momentum berkelanjutan dalam perlindungan hutan di Indonesia. 

Waspada Kebakaran Hutan di Tengah Potensi El Nino

Direktur Global Forest Watch Elizabeth Goldman mewanti-wanti khususnya negara di Asia Tenggara dan sebagian Amerika Selatan, atas potensi kebakaran hutan dan lahan tahun ini yang diperparah dengan fenomena El Nino tahun ini.

“Kebakaran dan perubahan iklim saling memperparah, dengan El Nino yang akan terjadi pada 2026, investasi pada pencegahan dan penanggulangan akan sangat penting, sebab kebakaran ekstrem akan menjadi hal biasa,” ujar dia, dikutip dari The Straits Times.

Berdasarkan catatan WRI, sepanjang 2001-2025, kebakaran hutan menjadi penyebab utama hilangnya tutupan hutan di kawasan Asia, Oseania, dan Amerika Utara. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas