Kemarau Meluas, BPBD Jateng Catat 25 Daerah Dilanda Kekeringan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah melaporkan terdapat 25 kabupaten atau kota yang terdampak kemarau di provinsi tersebut. Belasan kabupaten maupun kota bahkan telah menetapkan status siaga darurat kekeringan tahun ini.
Adapun merujuk pada keterangan BPBD Jawa Tengah pekan lalu, daerah yang telah menetapkan status siaga darurat kekeringan adalah Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Banjarnegara, Purbalingga, Grobogan, Semarang, Pemalang, Wonosobo, Purworejo, Wonogiri, Kota Salatiga, dan Kota Tegal.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, selama musim kemarau terhitung dari 5 Juni hingga 19 Juli 2026, BPBD juga mencatat 56 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta 219 kejadian kebakaran gedung dan rumah.
“Karhutla ini paling banyak terdampak itu lahan, utamanya lahan tebu. Jumlah kerugian karhutla Rp 607 juta, kerugian kebakaran gedung dan rumah sampai Rp 27 miliar. Karhutla ini yang perlu diantisipasi oleh daerah,” kata Bergas, dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Rabu (29/7).
Merespons laporan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi mengatakan ia telah meminta seluruh kepala daerah untuk melakukan mitigasi, memetakan daerah rawan, serta menyiapkan langkah antisipasi kekeringan dan dampak kemarau. Di antaranya dengan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan pertanian.
“Kemarin saya sudah ajukan ke Menteri Pertanian untuk bantuan pompa air. Sudah disetujui, tinggal nanti Dinas Pertanian dan Peternakan menindaklanjuti agar bisa segera dikirim,” ujar Lutfi.
Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah per 24 Juli, sebanyak 6,8 juta liter air bersih telah disalurkan ke daerah-daerah terdampak kekeringan, paling banyak untuk Kabupaten Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara.
Indonesia Memasuki El Nino Kuat
Menurut pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indeks Nino 3.4 atau anomali suhu air laut di bagian tengah Samudra Pasifik telah mencapai +2,26 dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2.
“Indikator tersebut mengindikasikan kejadian El Nino dengan intensitas kuat dan berpotensi semakin menguat pada tahun ini,” demikian dikutip dari laman resmi BMKG.
Selain laporan kekeringan di Jawa Tengah, BMKG juga menyoroti kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
“Situasi ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap berkurangnya ketersediaan air, meluasnya titik panas, dan potensi kebakaran di lahan yang mudah terbakar,” demikian dikutip.
Dengan menguatnya kondisi kering di sejumlah wilayah, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas dan potensi karhutla.
BMKG kemudian mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembakaran secara sengaja dan sembarangan, terutama di kawasan rawan terbakar seperti gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering. Jika mendapati titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melapor ke pihak berwenang.