Pemerintah Turunkan 52 Pesawat untuk Tangani Karhutla di Kalimantan dan Sumatra

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/sg
Petugas memasukan bahan semai Natrium Klorida (NaCI) kedalam pesawat Cessna 208B Grand Caravan Ex di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (2/8/2026).
Penulis: Mela Syaharani
21/8/2026, 18.49 WIB

Pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada enam provinsi di Sumatra dan Kalimantan hingga Jumat (21/8). Dari jumlah tersebut, lima pesawat dikerahkan siang ini. 

Menurut laporan Kepala BNPB Suharyanto, 52 pesawat itu dikerahkan untuk penanganan karhutla di provinsi Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

“Lima pesawat TNI AU kembali diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat 30 armada BNPB yang telah beroperasi di tiga provinsi terdampak di Kalimantan,” kata Seskab Teddy dalam siaran pers Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Jumat (21/8).

Selain itu, TNI AU juga menyiagakan sejumlah pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Armada tersebut disiapkan untuk bergerak sewaktu-waktu sesuai kebutuhan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan perkembangan situasi di lapangan.

“Dari jumlah tersebut, 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan dan 22 pesawat di wilayah Sumatra,” ujar Teddy.

Armada yang ditempatkan di Kalimantan terdiri atas berbagai jenis pesawat dan helikopter yang mendukung kegiatan patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta pemadaman kebakaran dari udara melalui water bombing.

Seskab menyampaikan operasi udara tersebut telah berlangsung secara intensif. Selama dua hari terakhir, armada BNPB bersama TNI melakukan operasi water bombing untuk menjangkau dan memadamkan titik-titik kebakaran hutan dan lahan dari udara di wilayah terdampak.

Penambahan armada udara tersebut merupakan langkah pemerintah untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan sekaligus meningkatkan kecepatan respons terhadap titik-titik kebakaran yang berpotensi meluas.

Pemerintah juga menyebut tengah berupaya menekan dampak kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Hal ini dilakukan sekaligus untuk melindungi keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan di wilayah terdampak.

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan. Pada Kamis (20/8), terdeteksi 627 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, paling banyak berada di Kalimantan Barat. 

Pemerintah pun menyiapkan operasi modifikasi cuaca dan membangun sumur bor untuk mendukung pemadaman. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan rencana operasi modifikasi cuaca (OMC) akan dilakukan di Kalimantan Barat pada 23-27 Agustus mendatang.  

Dalam periode tersebut, kondisi cuaca Kalimantan Barat diprediksi mendukung peningkatan peluang hujan melalui penyemaian awan. 

“BMKG saat ini tengah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk mengupayakan pelaksanaan kembali OMC di Kalimantan Barat pada periode tersebut,” kata Ristianto, dikutip dari keterangan resmi pada Jumat (21/8).

Sebelumnya, OMC telah dilakukan pada 13-17 Agustus melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut, dilakukan sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik. 

Akan tetapi, upaya serupa tampaknya cukup sulit dilakukan di Kalimantan Tengah, setidaknya hingga akhir Agustus mendatang.  

“Kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diperkirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” ujar Ristianto. Ketika hanya ada sedikit awan hujan, maka upaya penyemaian sulit dilakukan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani