Produksi RDF di TPSA Cimenteng Gantikan 10% Suplai Batu Bara Semen Jawa

Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas
Presiden Direktur PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, Peramas Wajananawat, di Peresmian RDF TPSA Cimenteng, Sukabumi, Kamis (31/7).
31/7/2025, 17.53 WIB

Pabrik refuse derived fuel (RDF) di TPSA Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat akan menghasilkan bahan bakar alternatif yang bisa mengurangi penggunaan batu bara di pabrik semen PT Semen Jawa sebesar 10% per hari. 

RDF tersebut merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Sukabumi dengan PT Semen Jawa, yang mengolah tumpukan sampah dari sekitar 27 kecamatan di Sukabumi. 

“Untuk output-nya, kita mendapatkan RDF 3, yaitu material untuk bahan bakar alternatif. Kita bisa menggantikan batu bara. Kita bisa mengalokasikan (hasil RDF) sebesar 100 ton per hari,” tutur Presiden Direktur PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, Peramas Wajananawat, di Peresmian RDF TPSA Cimenteng, Sukabumi, Kamis (31/7).

Peramas memperkirakan, 100 ton RDF yang dihasilkan dapat menggantikan 10% batu bara yang digunakan dalam operasional pabrik semennya. 

Untuk menghasilkan jumlah tersebut, RDF membutuhkan 330 ton pasokan sampah setiap harinya. Sebanyak 200 ton diperoleh dari sampah baru, 130 ton lainnya diperoleh dari sampah yang sudah lama menggunung di TPSA Cimenteng.

Pembangunan RDF ini menjadi salah satu upaya PT Semen Jawa untuk mencapai nol emisi pada 2050 mendatang. Hingga tahun 2030, Peramas menuturkan bahwa pihaknya menargetkan 70% penggunaan bahan bakar alternatif.

“Saat ini hampir 25%, kurang lebih,” ujar Peramas.

Menteri LH: Reaplikasi di Wilayah Lain Menyusul

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut RDF ini sebagai solusi yang paling tepat untuk kota-kota menengah. Ini disebabkan biaya yang murah dan kemampuan RDF untuk menyerap sampahnya.

“RDF ini memang kapasitasnya dimintakan rata-rata di angka 200 ton per hari timbunan sampahnya,” tutur Hanif yang juga menghadiri acara peresmian.

Hanif menambahkan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan mendorong pembangunan RDF di daerah-daerah Indonesia. KLH tengah melakukan analisis untuk 514 kabupaten/kota untuk menentukan langkah pengolahan sampah yang bisa dilakukan.

“Jadi segala cara untuk meminimalisasi biaya penggunaan sampah harus kita pikirkan,” tutur Hanif. 

Selain biaya yang lebih murah dari proyek waste to energy lainnya, ada keuntungan yang bisa didapat dari operasional RDF. 

Teknologi ini membutuhkan biaya kurang lebih Rp200.000 per ton sampah. Sementara itu, harga RDF bergantung pada kalori sampah, semakin tinggi kalorinya semakin baik produk RDF yang dihasilkan. Oleh karena itu, harga jual yang dikenakan bisa lebih tinggi dari biaya operasional per ton-nya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas