Perburuan Liar di Riau: Gajah Mati Tanpa Kepala, Populasinya Tinggal Seribuan
Perburuan liar gajah masih terus berlangsung. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melaporkan temuan gajah mati tanpa kepala di areal kerja PT Riau Andalan Pulp and Paper di Blok Ukui, Pelalawan, Riau.
Perusahaan melaporkan kepada BBKSDA tentang temuan bangkai gajah di arealnya, pada Senin (2/2). BBKSDA Riau bersama Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Riau kemudian mengecek ke lokasi.
Kepala BBKSDA Riau Supartono menyatakan akan mengusut kasus ini dan menindak tegas pihak-pihak yang terlibat. “Kematian gajah ini merupakan peristiwa yang sangat serius. Hilangnya bagian kepala menunjukkan indikasi kuat adanya perburuan liar," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (6/2).
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, gajah tersebut merupakan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) berjenis kelamin jantan, dengan perkiraan usia sekitar 40 tahun.
Gajah sumatera merupakan satwa liar dilindungi. Supartono menjelaskan, setiap bentuk perburuan, pembunuhan, penyimpanan, penguasaan, pengangkutan, maupun perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi merupakan tindak pidana seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak terlibat dalam perburuan maupun perdagangan satwa liar, serta berperan aktif melaporkan kepada aparat berwenang apabila mengetahui atau menemukan indikasi kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar dilindungi.
Sejauh ini, belum ada data terbaru tentang jumlah populasi gajah Sumatra. Agustus tahun lalu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah akan merehabilitasi dan menghitung ulang populasi gajah Sumatra. Estimasi ketika itu, jumlahnya hanya sekitar 1.100 ekor. Jumlahnya bisa jadi sudah lebih sedikit dari itu karena turut jadi korban dalam bencana besar banjir dan longsor Sumatra.