Setelah Banjir, Datang Kebakaran: Sumatra Mulai Dikepung Api

Kementerian Kehutanan
Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.
13/2/2026, 13.53 WIB

Setelah bencana banjir dan longsor, Sumatra kini dilanda kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) per 12 Februari, terdapat 385 titik panas atau hotspot, terbanyak di Provinsi Riau yaitu 279 titik. Situasi ini tampak anomali di tengah situasi cuaca mayoritas wilayah Indonesia yang masih cenderung dilanda hujan. Bagaimana temuan di lapangan? 

Berdasarkan hasil pantauan Kementerian Kehutanan, sekitar 745,5 hektare area hutan dan lahan di Provinsi Riau, masih diselimuti api pada Jumat (13/2) pagi. Kebakaran terjadi di wilayah Kabupaten Kampar, Kota Dumai, Kabupaten Rohil, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Pelalawan. Area yang terbakar termasuk hutan produksi, area penggunaan lain (APL), hingga hutan lindung. 

Bila merujuk pada area kebakaran, dugaan pun mencuat soal adanya kebakaran yang disengaja. Katadata menghubungi Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kemenhut Ferdian Krisnanto untuk mengetahui lebih dalam soal kondisi di lapangan. Dia tak menampik sudah ada temuan-temuan dan tengah didalami.  

Di Kabupaten Kampar, khususnya Desa Rimbo Panjang dan Desa Karya Indah, terdapat indikasi bahwa kebakaran terkait pembukaan lahan untuk perumahan. “Di Kampar tadi indikasi pembersihan lahan, bisa jadi untuk perumahan atau kebun karena di samping-sampingnya sudah kavlingan,” kata Ferdian kepada Katadata, pada Jumat (13/2). Luasan kebakaran di Desa Karya Indah per pagi ini tercatat mencapai dua hektare.

Ferdian dan tim menemukan papan nama pemilik kavling di area tersebut, namun belum bisa mengonfimasi kebenaran soal pemilikan lahan tersebut. “Tentunya kewenangan di penegak hukum nantinya. Tugas kami pemadaman dulu,” ucap dia. 

Situasi Pemadaman Sulit: Cuaca Kering hingga Angin Kencang di Sebagian Wilayah Kebakaran 

Ferdian mengungkapkan, tim menghadapi situasi sulit di lapangan. Pemadaman terhambat beberapa hal, antara lain sumber air yang semakin berkurang dan akses jalan yang sulit ditempuh. 

Beberapa lokasi kebakaran dilaporkan tak terguyur hujan hampir selama 20 hari. “Ditambah gambut sudah kering dengan tinggi muka air tanah minus hampir 90 sentimeter,” ucapnya.  

Tim juga berhadapan dengan kondisi angin kencang yang sering berubah arah. "Ini meningkatkan potensi bahaya bagi personal Manggala Agni yang berada di kepala api,” ujar Ferdian.

Di beberapa lokasi yang sulit dijangkau, para pemadam memilih bermalam untuk memudahkan upaya pemadaman.

Bila mengacu pada peta fire weather indeks BMKG, titik-titik panas di Provinsi Riau memang berada di wilayah "merah" yaitu wilayah dengan potensi api besar bila terjadi kebakaran.

Peta Sebaran Hotspot BMKG (BMKG)

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.