IESR: Ekonomi Bisa Terdongkrak Industri Baterai Nikel, Insentif Jadi Penentu
Institute for Essential Services Reform (IESR) mengatakan industri baterai berbasis nikel -- lithium nickel manganese cobalt (NMC) -- masih punya peluang mengungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia. "PR-nya" adalah merancang insentif yang tepat untuk menggelorakan industri ini.
“Bagaimana memberikan insentif agar NMC-nya lebih bersaing,” kata Kepala Teknologi Sistem Transportasi IESR Faris Adnan Padhillah, dalam diskusi ‘Isu Pengesahan Kewenangan PKB Daerah terhadap Kepemilikan Kendaraan Listrik di Indonesia’, di Jakarta, Rabu (6/5).
Berdasarkan studi yang dilakukan IESR, industri baterai di Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 0,05 persen per tahun selama 35 tahun. Ini bila yang dikembangkan adalah industri baterai non-nikel lithium ferro-phosphate (LFP).
Menurut Faris, daya dorongnya terhadap perekonomian akan lebih besar jika yang dikembangkan adalah industri baterai NMC. “Memang yang perlu dikembangkan adalah hilirisasi ke industrialisasi (baterai) itu,” ujarnya.
Sebagai informasi, baterai LFP merupakan baterai lithium-ion dengan katoda berbahan besi fosfat. LFP dikenal dengan kepadatan energi yang tinggi, masa pakai yang panjang, serta kinerja baik pada suhu tinggi. Umumnya LFP digunakan untuk kendaraan kecil dan ringan.
Sedangkan NMC berbahan nickel, kobalt, dan mangan. NMC memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dari LFP, namun harganya lebih mahal.
Dorongan Adopsi Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Nikel
Pemerintah tengah menggodok insentif baru untuk kendaraan listrik. Rencananya, akan ada insentif khusus untuk kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel berupa pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan skemanya melalui PPN Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) 100 persen. “Kalau mobil listrik yang baterainya nikel, PPN-nya ditanggung 100 persen. Kalau yang non-nikel, di bawah itu," kata Purbaya di Jakarta, Rabu (6/5).
Kebijakan tersebut dirancang untuk menggelorakan kembali impian lama yaitu terbentuknya mega industri baterai berbasis nikel dari hulu ke hilir di dalam negeri."Saya mau memastikan mimpi kita bisa hidup terus. Bisa memanfaatkan sumber daya alam (nikel) kita secara maksimal,” ujarnya.
Pemerintah juga merencanakan subsidi pembelian untuk ratusan ribu kendaraan listrik. Namun, detailnya belum final. Kabarnya, ada kemungkinan subsidi Rp 5 juta per unit untuk motor listrik.
Menanggapi rencana ini, Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR Deon Arinaldo mengingatkan perlu dirancang juga dukungan untuk industri bila yang disasar bukan hanya adopsi kendaraan listrik tapi berkembangnya industri baterai dan kendaraan listrik dari hulu ke hilir di dalam negeri.
“Kalau tujuannya memang kebijakan industri, maka keterkaitan dengan dukungan insentif di industrinya butuh dibangun dulu, tidak bisa berdiri sendiri kebijakannya,” kata Deon.