Merebak di Amerika Latin, BRIN Jelaskan Kenapa Hantavirus Sporadis di Indonesia
Penyakit zoonosis yang berasal dari tikus, Hantavirus, tengah merebak di wilayah Amerika Latin. Sama-sama "punya" tikus, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ristiyanto menjelaskan, mengapa hantavirus jadi wabah besar di wilayah tersebut, sedangkan di Indonesia menjadi kasus sporadis?
Jawabannya, kata dia, ada di buku Pavlovsky yang diriilis tahun 1964, berjudul Natural Nidality of Transmissible Diseases. Intinya, suatu penyakit memiliki “sarang alami” alias natural nidus, yaitu wilayah atau ekosistem tertentu tempat patogen, hewan reservoir, dan vektor hidup serta berinteraksi secara stabil.
"Konsep ini melihat penyakit bukan hanya soal ada virus dan manusia, tetapi keseluruhan sistem ekologinya: reservoir, lingkungan, iklim, vegetasi, aktivitas manusia, hingga dinamika populasi hewan pembawa," ujarnya kepada Katadata, Senin (11/5) .
Di Amerika Latin seperti Chili atau Argentina, beberapa jenis hantavirus, terutama andes virus, memiliki nidus alami yang sangat kuat dan stabil. Reservoir atau wadah pembawanya adalah binatang pengerat alias rodensia liar yang populasinya sangat dipengaruhi siklus iklim dan vegetasi.
Ketika terjadi fenomena iklim seperti El Nino atau curah hujan meningkat dan vegetasi tumbuh melimpah, populasi tikus melonjak besar-besaran. Kondisi ini sangat mendukung transmisi virus.
Selain itu, di wilayah Andes banyak interaksi manusia dengan habitat alami rodensia: aktivitas pertanian, peternakan, wisata alam, hingga rumah-rumah di daerah rural yang dekat dengan hutan atau semak alami. "Jadi manusia masuk langsung ke dalam nidus (sarang) ekologis virus tersebut," ujarnya.
Yang membuat Chili dan Argentina lebih rentan wabah juga karena beberapa strain hantavirus di sana, terutama andes virus, memiliki kemampuan penularan antarmanusia terbatas. Ini cukup unik karena mayoritas hantavirus di dunia hampir selalu zoonosis murni dari rodensia ke manusia, tapi tidak antarmanusia.
"Jadi setelah spillover awal dari tikus terjadi, transmisi bisa berlanjut antarmanusia dalam kondisi tertentu. Itu salah satu alasan kenapa kasus di sana dapat berkembang menjadi klaster atau wabah," ujarnya.
Sementara di Indonesia, menurut dia, nidus ekologis hantavirus tampaknya berbeda. Reservoir memang ada, tetapi biodiversitas rodensia lebih kompleks, kompetisi antarspesies lebih tinggi, pola interaksi manusia dengan rodensia berbeda, dan strain virus lokal sejauh ini tampaknya kurang efisien menyebabkan transmisi besar.
"Ekosistem tropis seperti Indonesia justru kadang menghasilkan “dilution effect”, yaitu tingginya keanekaragaman hayati dapat menghambat dominasi satu reservoir utama pembawa virus. Jadi virus tetap ada, tetapi sirkulasinya lebih tersebar dan tidak mudah membentuk ledakan kasus besar," kata dia.
Pengaruh urbanisasi dan deforestasi terhadap penyebaran hantavirus di Amerika Latin dan Indonesia juga dinilai berbeda. Di Chili atau Argentina, alih fungsi lahan sering mendorong manusia makin dekat dengan habitat reservoir spesifik hantavirus.
Sedangkan di Indonesia, urbanisasi lebih sering menghasilkan dominasi tikus perkotaan seperti Rattus norvegicus atau Rattus tanezumi, yang memang dapat membawa hantavirus tetapi pola transmisinya sejauh ini lebih banyak menghasilkan kasus sporadis.
Dia menerangkan, dalam konsep nidality atau "sarang alami", wabah besar muncul ketika reservoir sangat dominan, lingkungan mendukung amplifikasi virus, manusia sering masuk ke nidus alami, dan agen infeksinya memiliki efisiensi transmisi tinggi.
"Di Indonesia, beberapa komponen itu ada, tetapi belum terbentuk menjadi sistem ekologis yang cukup kuat untuk menghasilkan outbreak besar seperti di andes Amerika Selatan," ujarnya.
Sederet Langkah Mencegah Infeksi Hantavirus?
Penularan hantavirus pada manusia banyak terjadi akibat menghirup partikel kecil dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering dan beterbangan saat dibersihkan. Untuk memitigasi risiko penyebaran hantavirus, Ristiyanto menyebut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat.
Pertama, mengendalikan populasi tikus, khususnya di permukiman padat, gudang pangan, pasar, dan area pertanian. Kedua, perbaikan sanitasi dan pengelolaan sampah agar sumber makanan tikus berkurang.
Kemudian, pengawasan keberadaan hewan pengerat dan penyakit zoonosis di daerah rawan banjir maupun kekeringan. Lalu, penguatan diagnosis laboratorium, supaya kasus hantavirus tidak tertukar dengan kasus demam berdarah, leptospirosis, atau infeksi tropis lain.
Selain itu, integrasi data iklim dengan sistem kewaspadaan dini penyakit zoonosis. Dan, edukasi masyarakat agar tidak membersihkan kotoran tikus dalam keadaan kering. "Lebih baik dibasahi dengan disinfektan terlebih dahulu," kata dia.