Gas Beracun dari Serangan Israel ke Fasilitas Minyak Iran Setara Letusan Gunung
Serangan udara Israel terhadap sederet fasilitas minyak di Teheran pada 7 Maret menghasilkan emisi sulfur dioksida setara letusan gunung api kecil. Data dari satelit generasi baru Cina menunjukkan gas beracun tersebut menyebar hingga 300 kilometer, melintasi Turkmenistan, Usbekistan, Kirgistan, Kazakstan, hingga Cina.
Pada 7 Maret 2026, militer Israel yang didukung Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan bakar di sekitar Teheran, Iran. Merujuk pada laporan Human Rights Watch, empat depot minyak utama diserang, yaitu depot minyak Shahran, depot minyak Aghdasieh, depot minyak Shahr-e Rey, dekat salah satu kilang besar Tehran Oil Refinery, dan depot minyak Fardis di Karaj.
Serangan tersebut memicu ledakan dan kebakaran besar yang menerangi langit dan menyebabkan kepulan asap selama berhari-hari. Hujan berwarna hitam yang mengandung partikel arang dan hidrokarbon dilaporkan turun di Teheran. Warga mengeluhkan iritasi mata dan kulit serta gangguan pernapasan.
Merujuk pada data dari konstelasi satelit Fengyun-3,Zhenping Yin dan tim peneliti dari Wuhan University mengungkapkan bahwa serangan singkat itu memicu lonjakan emisi selama beberapa hari dan melepaskan sekitar 29.800 ton sulfur dioksida. Sebagai perbandingan, gunung berapi Eyjafjallajökull di Islandia mengeluarkan sekitar 20 ribu ton sulfur dioksida per hari ketika abu vulkaniknya melumpuhkan penerbangan di Eropa pada 2010.
Yin menjelaskan, konsentrasi sulfur dioksida yang terdeteksi satelit mencapai tingkat yang dapat mengganggu fungsi paru-paru, mengiritasi mata dan tenggorokan, serta memperburuk asma maupun bronkitis, terutama pada anak-anak dan lansia. “Walaupun peristiwa emisi besar ini hanya berlangsung satu hingga dua hari, penelitian kami menunjukkan dampaknya terhadap atmosfer regional tidak bisa diabaikan,” ujarnya, dikutip dari New Scientist, Jumat (29/5).
Polutan juga kemungkinan ikut terbawa hujan dan jatuh ke sumber air maupun lahan pertanian, sehingga berpotensi mencemari air minum dan pangan.
Sebagai informasi, sulfur dioksida bereaksi dengan senyawa hidrogen dan oksigen di atmosfer membentuk asam sulfat yang dapat memicu kabut asap dan hujan asam yang berbahaya bagui kesehatan. Dalam peristiwa Great Smog di London pada 1952, kabut asap pernah menewaskan sekitar 12 ribu orang.
Great Smog adalah peristiwa kabut asap beracun yang menyelimuti London selama beberapa hari pada Desember 1952. Kabut ini campuran asap pembakaran batu bara, sulfur dioksida, arang, dan udara dingin.
Saat itu, banyak rumah, pembangkit listrik, dan industri di London memakai batu bara sebagai bahan bakar. Ketika suhu turun, warga membakar lebih banyak batu bara untuk pemanas. Polusi kemudian menumpuk karena hampir tidak ada angin yang menyebarkannya.
Dampaknya sangat parah, dari mulai jarak pandang nyaris nol sehingga transportasi lumpuh. Selain itu orang mengalami sesak napas, batuk, dan iritasi mata yang menyebabkan rumah sakit penuh.
Serangan terhadap Teheran disebut melepaskan sulfur dioksida sekitar 20 kali lebih besar dibanding emisi tahunan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara di negara maju. Selain sulfur dioksida, fasilitas minyak yang terbakar juga melepaskan partikel arang dan logam berat.
Sedangkan menurut Lucy Carpenter dari University of York di Inggris mengatakan, gumpalan asap kemungkinan juga mengandung polutan lain yang lebih berbahaya, seperti nitrogen oksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, serta hidrokarbon yang tidak terbakar sempurna seperti benzena, yang semuanya dikaitkan dengan risiko kanker.
“Sulfur dioksida dilepaskan bersama berbagai zat berbahaya lainnya. Jumlah sebesar itu dari satu kebakaran saja memiliki implikasi besar terhadap kesehatan manusia hingga ribuan kilometer,” kata Carpenter seperti dikutip New Scientist.
Meski gumpalan polusi hanya bertahan sekitar tiga hari, sehingga kemungkinan belum cukup lama untuk memicu kanker. Namun, pencemaran udara tersebut dinilai tetap dapat memicu serangan asma, stroke, hingga serangan jantung pada kelompok rentan.