Eropa Dilanda Heatwave, Asia Tenggara Hidup dengan Suhu Panas-Lembap Berbahaya

Climate Central
Climate Central melaporkan hari panas lembab berbahaya dunia meningkat dua kali lipat dibandingkan era 1970-an. Asia Tenggara kini mengalami enam bulan hari panas lembab per tahun.
30/6/2026, 12.56 WIB

Di Asia Tenggara, suhu udara belum setinggi Spanyol atau Prancis yang belakangan menembus 40 derajat Celsius. Namun, kelembapan udara yang tinggi membuat risiko gangguan kesehatan akibat panas, mulai dari kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heat stroke), tetap besar.

Laporan terbaru Climate Central menunjukkan, Asia Tenggara bersama sebagian wilayah tropis Amerika Selatan dan pesisir Afrika Barat kini mengalami sedikitnya enam bulan hari panas-lembap berbahaya (dangerous humid heat days) setiap tahun.

Climate Central mendefinisikan hari panas-lembap berbahaya sebagai hari ketika suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai sedikitnya 25 derajat Celsius. Berbeda dengan suhu udara biasa, suhu bola basah memperhitungkan suhu sekaligus kelembapan udara sehingga dinilai lebih mampu menggambarkan seberapa besar tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia.

"Seiring memanasnya planet kita, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil, kondisi panas-lembap menjadi semakin sering dan semakin intens," demikian tertulis dalam laporan yang dikutip Selasa (30/6).

Laporan tersebut menjelaskan, yang membuat cuaca panas semakin berbahaya bukan semata-mata suhu udara, melainkan juga kelembapan. Ketika udara sangat lembap, suhu yang tampak biasa saja di termometer dapat terasa jauh lebih menyengat.

Dalam kondisi normal, tubuh melepaskan panas melalui penguapan keringat. Namun, ketika udara sudah dipenuhi uap air, keringat menjadi lebih sulit menguap sehingga panas tidak lagi dapat dilepaskan secara efektif. Akibatnya, panas justru menumpuk di dalam tubuh.

"Ketika panas terus menumpuk di dalam tubuh, jantung harus bekerja lebih keras. Risiko dehidrasi dan penyakit akibat panas, termasuk kelelahan akibat panas maupun serangan panas, pun meningkat," demikian dikutip dari laporan.

Serangan panas (heat stroke) merupakan kondisi darurat medis yang dapat menyebabkan kerusakan organ, bahkan berujung pada kematian apabila tidak segera ditangani.

Climate Central mencatat, panas ekstrem telah merenggut lebih dari seperempat juta nyawa di seluruh dunia sejak 2000. Dampaknya dapat dirasakan siapa saja, tetapi paling berisiko bagi lansia, anak-anak, ibu hamil, penderita penyakit penyerta, serta mereka yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas pendingin.

Menurut Climate Central, fenomena ini semakin sering terjadi seiring menghangatnya bumi. Secara global, jumlah hari panas-lembap berbahaya telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dari rata-rata 10 hari per tahun pada era 1970-an menjadi 23 hari per tahun dalam satu dekade terakhir. Lembaga tersebut memperkirakan hampir 64 persen hari panas-lembap berbahaya yang terjadi sejak 1970 dipicu oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Temuan tersebut sejalan dengan analisis para ilmuwan dalam konsorsium World Weather Attribution (WWA). Mereka menilai, gelombang panas ekstrem yang kini melanda Eropa menjadi lebih sering dan lebih intens akibat penumpukan emisi gas rumah kaca di atmosfer.

"Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa perubahan iklim," ujar peneliti WWA Theodore Keeping.

Para ilmuwan mengingatkan, tanpa upaya menekan emisi gas rumah kaca, gelombang panas di masa depan akan menjadi semakin ekstrem. Gelombang panas yang saat ini terasa luar biasa bahkan dapat dianggap lebih sejuk dibandingkan kondisi yang akan terjadi pada masa mendatang.

Pesisir Asia Tenggara Semakin Rentan

Ilmuwan iklim Climate Central Zack Labe mengatakan, dampak panas-lembap akibat perubahan iklim paling nyata dirasakan di wilayah pesisir Asia Tenggara.

"Jika kita melihat pekan ini, sebagian wilayah pesisir Asia Tenggara mengalami kondisi panas-lembap yang sangat berbahaya, yang kemungkinannya semakin besar karena perubahan iklim," ujar Labe saat menjawab pertanyaan This Week in Asia, pekan lalu.

Menurut Climate Central, dampak perubahan iklim di Asia Tenggara tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga membebani sektor pertanian. Hasil panen dan produktivitas diperkirakan terus tertekan, padahal sektor ini menyumbang sekitar 8-15 persen perekonomian Indonesia, Thailand, dan Kamboja.

Laporan tersebut juga mencatat hampir separuh luas daratan dan populasi di Asia Tenggara kini terpapar sedikitnya satu jenis bahaya iklim. Sekitar 10 persen lahan berisiko terdampak banjir sungai, sementara sekitar 15 persen lainnya menghadapi risiko panas ekstrem. Tekanan akibat perubahan iklim itu pada akhirnya tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga ketahanan pangan dan aktivitas ekonomi di kawasan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas