RI Punya Jalur Terpendek Ekspor Listrik ke Singapura, Berapa Estimasi Biayanya?
Kabel listrik bawah laut Indonesia-Singapura berpotensi menjadi interkoneksi listrik bawah laut lintas negara pertama di Asean. Dibandingkan proyek serupa yang tengah diprospek Singapura dengan Australia maupun Kamboja, jalur Indonesia diperkirakan menjadi yang paling murah karena memiliki rute terpendek.
Saat ini, Singapura telah memberikan persetujuan bersyarat (conditional approval) kepada 11 proyek impor listrik rendah karbon, enam di antaranya sudah mendapat izin bersyarat (conditional licence), satu langkah lagi menuju izin impor (import licence). Ke-enamnya proyek dari Indonesia.
Selain dari Indonesia, terdapat dua proyek pengiriman listrik rendah karbon jalur kabel bawah laut yang diprospek Singapura yaitu dari Kamboja dan Australia. Namun, bila dilihat secara jarak, proyek Indonesia kemungkinan paling efisien.
Kabel bawah laut dari Kepulauan Riau menuju Singapura diperkirakan hanya membentang sekitar 50 kilometer. Sebagai perbandingan, kabel dari Kamboja diperkirakan mencapai sekitar 1.000 kilometer, sedangkan dari Australia sekitar 4.300 kilometer.
Lantas, berapa besar estimasi biaya pembangunan kabel listrik bawah laut?
Sejauh ini, belum ada keterangan tentang spesifikasi kabel, namun beberapa pengamat memperkirakan yang akan digunakan adalah high-voltage direct current (HVDC).
Bila merujuk pada Neo Market Data, biaya pembangunan kabel bawah laut berteknologi HVDC berkisar €2-5 juta per kilometer atau sekitar Rp41,1-102,8 miliar (kurs Rp20.500 per euro), bergantung pada kedalaman laut, kondisi dasar laut, hingga harga tembaga.
Selain kabel, komponen termahal lainnya adalah konverter yaitu mencapai €300-600 juta atau sekitar Rp6,2-12,3 triliun per terminal. Di luar itu, masih ada biaya pemasangan dan logistik, serta operasi dan pemeliharaan.
| Komponen | Perkiraan Biaya (2025) | Keterangan |
| Kabel bawah laut HVDC | €2-5 juta per kilometer | Dipengaruhi kedalaman laut, kondisi dasar laut, dan harga tembaga. |
| Stasiun konverter (per terminal) | €300-600 juta | Dibutuhkan di setiap ujung jaringan untuk mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC), dan sebaliknya. |
| Pemasangan dan logistik | 20-30% dari biaya kabel | Mencakup kapal pemasang kabel khusus, survei dasar laut, hingga proses instalasi. |
| Operasi dan pemeliharaan | Sekitar 2-3% dari nilai investasi per tahun | Meliputi inspeksi rutin, pemantauan kondisi kabel, serta cadangan biaya perbaikan selama masa operasi. |
Sumber: Neo Market Data
Bila merujuk pada estimasi biaya tersebut, pembangunan kabel sepanjang sekitar 50 kilometer diperkirakan membutuhkan investasi sekitar €100-250 juta atau sekitar Rp2-5,1 triliun untuk kabelnya saja.
Di luar kabel, proyek juga membutuhkan dua stasiun konverter di masing-masing ujung jaringan dengan estimasi biaya sekitar €600 juta-1,2 miliar atau sekitar Rp12,3-24,6 triliun. Sementara biaya pemasangan dan logistik diperkirakan mencapai 20-30 persen dari biaya kabel, atau sekitar €20-75 juta (Rp411 miliar-1,5 triliun).
Dengan menggunakan asumsi tersebut, total investasi proyek interkoneksi Indonesia-Singapura diperkirakan berada pada kisaran €720 juta-1,53 miliar atau sekitar Rp14,8-31,3 triliun, tergantung spesifikasi teknis dan faktor lainnya yang memengaruhi pengerjaan proyek.