Karhutla TN Tanjung Puting Jadi Prioritas, Apa Instruksi Presiden dan Menhut?

ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.
Individu Orangutan bergelantungan di dahan pohon di sekitar wisata susur sungai di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Senin (29/3/2021). Taman Nasional ini merupakan salah satu kawasan konservasi orangutan terbesar di dunia, dan habitat bagi aneka satwa endemik lainnya termasuk bekantan.
13/10/2026, 19.27 WIB

Pemerintah menjadikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting sebagai prioritas pemadaman. Presiden menyanggupi penambahan peralatan dan sumur bor, sedangkan Menteri Kehutanan memerintahkan perbaikan strategi pemadaman. 

Dalam rapat penanganan karhutla di Istana Merdeka pada Senin (12/10), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan adanya kebakaran baru di lahan seluas 513,89 hektare di kawasan konservasi orangutan pertama di Indonesia itu. Sedanngkan Pangdam XXII Mayjen TNI Zainul Arifin mengatakan pemadaman sulit dilakukan karena lahan terbakar berada di area rawa yang sulit dijangkau.

Presiden Prabowo kemudian menyanggupi permintaan Zainul untuk penambahan 50 pompa air berukuran kecil untuk pemadaman. “Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” kata dia dalam rapat tersebut, dikutip pada Selasa (13/10).

Selain pompa, Prabowo menjanjikan dana Rp2 miliar untuk pembuatan 200 titik sumur bor untuk sumber air pemadaman. “Saya kirim Rp2 miliar, 200 titik,” ucap Prabowo. 

Lewat unggahan Instagram pribadinya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengabarkan sudah menggelar rapat virtual bersama relawan penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting. Kendala pemadaman karhutla itu di antaranya karena akses yang sulit dilalui, kebutuhan alat dan logistik, serta koordinasi dan strategi pemadaman yang perlu diperbaiki.

Raja Juli mengusulkan optimalisasi skema flying camp dimana personel pemadam kebakaran ditempatkan di posko atau tenda darurat dekat titik api. “Saya meminta jajaran Kementerian Kehutanan segera menindaklanjutinya. Praktik baik yang telah dilakukan relawan, seperti skema flying camp agar petugas tidak harus bolak-balik menempuh perjalanan jauh dan membuat sekat bakar, perlu dioptimalkan dengan koordinasi yang lebih baik,” tulis dia.

Surat Terbuka Para Relawan: Kewalahan, Minta Negara Turun Tangan

Tim relawan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (kahutla) mengaku kewalahan menangani api di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kebakaran di kawasan konservasi pertama orangutan di Tanah Air tersebut telah menghanguskan ribuan hektare lahan. 

“Kami harus jujur mengakui bahwa upaya di lapangan tidak lagi cukup untuk menghadapi situasi sebesar ini,” kata seorang relawan yang mewakili tim membacakan surat terbuka, dikutip dari video yang diunggap di Instagram @moncos_thepuntal_puntal, Senin (12/10). 

Para relawan yang merupakan pelaku usaha di taman nasional itu mengatakan, tim di lapangan telah berjibaku memadamkan api dengan segala kemampuan, namun api masih terus berkobar, sedangkan kemampuan tim kian terbatas.

Karena itu, para relawan meminta kepada pemerintah agar segera menurunkan bantuan skala besar. “Melalui surat terbuka ini, kami memohon kepada pemerintah untuk segera mengerahkan penanganan skala besar, termasuk water bombing, serta menambah dukungan anggaran dan logistik,” ujarnya.

Tim tidak menampik bahwa sudah ada bantuan untuk penanganan karhutla, namun belum cukup. “Kami tidak membutuhkan sekadar janji. Kami tidak membutuhkan harapan yang kembali menggantung. Kami membutuhkan tindakan nyata, sekarang,” tulis para relawan.

Taman Nasional Tanjung Puting bukan satu-satunya kawasan konservasi yang tengah dilahap api. Di provinsi yang sama, Kalimantan Tengah, Taman Nasional Sebangau juga sedang dikoyak api. 

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke kawasan konservasi itu, Raja Juli menyampaikan kementeriannya akan membangun sekitar 30 sumur bor untuk sumber pemadaman dan lima ekskavator untuk membuat sekat bakar. 

Di kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan di Sumatra Selatan, api yang berkobar sejak akhir Agustus lalu juga belum padam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas