IHSG Sesi I Tembus 8.000 di Tengah Demo DPR, Saham TOBA hingga MDKA Melesat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertinggi atau all time high (ATH), naik 0,84% ke level 8.003 pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (28/8). IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi secara intraday di level 8.022.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham hari ini mencapai Rp 9,62 triliun dengan volume 26,84 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,22 juta kali. Sebanyak 386 saham menguat, 266 saham terkoreksi, dan 149 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG pada sesi I hari ini mencapai Rp 14.520 triliun.
Di sisi lain, haham PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) justru anjlok 7,77% ke Rp 2.730. Anjloknya saham EXCL pasca melaporkan kinerja keuangannya hingga semester pertama 2025. EXCL membuka rugi hingga Rp 1,21 triliun, padahal pada semester pertama tahun 2024 masih membukukan laba Rp 1,03 triliun.
Dari sebelas sektor saham yang ada di BEI, sepuluh sektor terpantau bergairah. Saham-saham industri mencatat kenaikan terbesar, yakni 2,81%. Saham emiten tersebut yang berada di zona hijau misalnya, PT Astra International Tbk (ASII) yang naik 2,27% ke Rp 5.625 per lembarnya.
Di sisi lain, bursa saham Asia bergerak variatif. Indeks Straits Times naik 0,15% dan Nikkei tumbuh 0,65%. Sebaliknya Shanghai Composite turun 0,38% dan Hang Seng turun 1,15%.
Saham top gainers:
- PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) naik 5,30% ke Rp 1.390
- PT J Resources Tbk (PSAB) naik 4,09% ke Rp 458
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 4,18% ke Rp 2.490
Saham top losers:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 2,76% ke Rp 7.925
- PT Mitra Pack Tbk (PTMP) turun 2,73% ke Rp 107
- PT Indosat Tbk (ISAT) turun 1,44% ke Rp 2.050
Kenaikan IHSG hari ini didorong oleh masuknya sejumlah emiten Tanah Air dalam daftar konstituen hasil tinjauan atau rebalancing indeks bergengsi Amerika Serikat Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan indeks Inggris, FTSE Russell.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menyampaikan, IHSG masih bertengger di posisi resistance psikologis di Rp 8.000.
Resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar sehingga laju kenaikan harga tertahan.
Seiring dengan posisi resistance IHSG itu, Kiwoom Research mengingatkan kepada investor untuk menerapkan strategi jual otomatis atau trailing stop dan mengamati pasar terlebih dahulu.
Empat Sentimen IHSG
Sementara itu, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) sebelumnya telah memproyeksikan IHSG berpotensi menguat ke level 8.000 dalam pekan ini. “IPOT menilai IHSG masih sehat karena berada dekat level all time high,” kata Retail Equity Analyst IPOT Indri Liftiany Travelin Yunus.
Dia menjelaskan, ada empat sentimen yang mampu membawa IHSG ke level 8.000 dalam pekan ini. Pertama, Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan (BI-RI) sebesar 25 basis poin ke level 5%. Kemudian sentimen FOMC Minutes yang menunjuk pejabat The Fed cenderung berpendapat yang cenderung keras terhadap inflasi atau disebut hawkish.
Sentimen ketiga adalah Jerome Powell yang mengisyaratkan The Fed akan memangkas suku bunga acuan pada September mendatang. Pemangkasan tersebut diproyeksikan bakal terjadi sebab ekonomi AS melemah dan risiko terhadap lapangan kerja meningkat.
“Pasar bahkan memperkirakan dua kali pemangkasan hingga akhir tahun,” kata dia.
Terakhir adalah rebalancing indeks FTSE minggu lalu yang mulai efektif pada 22 September 2025. Adapun emiten yang masuk di dalam indeks bergengsi tersebut di antaranya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) di large cap, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) di mid cap dan delapan emiten di micro cap.