Ramalan Baru Saham Afiliasi Boy Thohir Merdeka Gold (EMAS), Ditaksir Bisa Segini
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terus menjadi sorotan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak resmi melantai pada 23 September lalu. Harga saham anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu sudah naik 23% sejak penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Namun, pada perdagangan Jumat (3/10), saham EMAS justru terkoreksi 2,58% ke level Rp 4.540 per saham.
Di tengah volatilitas tersebut, Trimegah Sekuritas merilis proyeksi baru. Analis Alpinus Dewangga dan Jocelyn Suwardy menargetkan harga saham EMAS bisa menembus Rp 5.800 dalam jangka menengah. Proyeksi ini dihitung dengan metode discounted cash flow (DCF) menggunakan proyeksi umur tambang 16 tahun pada periode 2026–2041, dengan weighted average cost of capital (WACC) nominal sebesar 9,6%.
Hasil perhitungan menunjukkan price to earnings ratio (P/E) EMAS pada 2026 sebesar 58,9 kali, atau 333% lebih tinggi dibandingkan produsen emas global. Namun, pada 2029, rasio itu diperkirakan turun menjadi 11 kali, setara diskon 17% dibandingkan rata-rata pesaing.
Trimegah juga menilai target harga Rp 5.800 mencerminkan enterprise value (EV) per sumber daya emas senilai US$ 838 per ons, atau 79% lebih tinggi dari kompetitor lokal.
“Kami kaitkan dengan volume produksi emas Merdeka Gold yang berpotensi menghasilkan arus kas lebih besar ketika kapasitas produksi maksimum tercapai,” tulis tim analis Trimegah dalam risetnya, Jumat (3/10).
Produksi emas Merdeka Gold diproyeksikan mulai berjalan pada kuartal I 2026 dengan target 79.000 ons. Angka itu akan terus meningkat hingga mencapai puncak sekitar 500.000 ons pada 2033, melalui kombinasi metode heap leach (HL) dan carbon in leach (CIL).
Metode HL dan CIL dinilai mampu mengolah bijih sulfida bergradasi tinggi sekaligus bijih oksida bergradasi rendah. Peningkatan produksi juga akan ditopang ekspansi kapasitas pabrik CIL pada 2029 dan 2032, serta kenaikan kadar emas.
Seiring peningkatan produksi, pendapatan EMAS diproyeksikan melonjak dari US$ 293 juta pada 2026 menjadi US$ 1,27 miliar pada 2029. EBITDA juga naik tajam dari US$ 180 juta menjadi US$ 806 juta, dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 61%.
Laba bersih diperkirakan tumbuh dari US$ 97 juta menjadi US$ 519 juta pada periode yang sama, setara CAGR 42%. Trimegah mencatat, model keuangan EMAS cukup sensitif terhadap harga emas global.
“Laba bersih berubah ±2,5% untuk setiap perubahan ±1% harga emas,” tulis analis.
Mayoritas Dana IPO untuk Bayar Utang
Berdasarkan prospektus, mayoritas dana hasil IPO EMAS digunakan untuk melunasi utang. Sekitar US$ 20 juta atau Rp 328,4 miliar disetor ke PT Pani Bersama Tambang (PBT) sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya listrik, hingga gaji karyawan. Setelah konversi setoran modal, EMAS tetap menguasai 99,99% saham PBT.
Perusahaan juga menyalurkan US$ 20 juta ke PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS) dalam bentuk pinjaman modal kerja operasional. Sisa dana IPO dialokasikan untuk membayar lebih awal pinjaman kepada induk usaha MDKA, sesuai perjanjian utang sejak April 2022. Hingga 4 Agustus 2025, utang EMAS kepada MDKA masih mencapai US$ 260 juta atau Rp 4,26 triliun.
Adapun total liabilitas EMAS per 31 Maret 2025 tercatat US$ 280 juta atau Rp 4,58 triliun, terdiri dari liabilitas jangka pendek US$ 77,9 juta dan liabilitas jangka panjang US$ 202,1 juta.
Pada periode 31 Maret hingga 4 Agustus 2025, Merdeka Gold Resources juga melakukan pencairan pinjaman baru sebesar US$ 306,25 juta atau Rp 5,01 triliun, sementara pembayaran pinjaman hanya mencapai US$ 50 juta atau Rp 819,69 miliar.
Proyek Emas Pani Mulai Beroperasi
Terhitung mulai 1 Oktober 2025, Merdeka Gold mengumumkan dimulainya penambangan pertama (first mining) di Proyek Emas Pani, Gorontalo. Tahap awal ditandai dengan proses pengupasan lapisan tanah (overburden stripping) serta pengambilan bijih pertama sebagai tanda dimulainya operasi penambangan secara resmi.
Proyek Emas Pani adalah salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia, dengan sumber daya lebih dari 7 juta ons emas. Umur tambang emas ini diproyeksikan berlangsung selama beberapa dekade.
Pada fase awal, proyek ini menggunakan metode heap leach dengan kapasitas pengolahan 7 juta ton bijih per tahun. Adapun target produksi sekitar 140 ribu ons emas per tahun.
Perseroan selanjutnya akan membangun fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas awal 7,5 juta ton per tahun, yang akan ditingkatkan menjadi 12 juta ton per tahun pada 2030. Dengan ekspansi tersebut, produksi emas puncak ditargetkan dapat mencapai 500 ribu ons per tahun.
Presiden Direktur Merdeka Gold Resources Boyke Poerbaya Abidin menyatakan, dimulainya penambangan pertama menjadi tonggak penting bagi perseroan dan seluruh pemangku kepentingan. Setelah tahap penambangan pertama, kegiatan akan segera berlanjut ke proses pelindihan (heap leach), pengolahan hingga menghasilkan produksi emas perdana.
Aktivitas yang meningkat secara bertahap diharapkan membawa dampak, mulai dari penciptaan lapangan kerja, penggerak roda ekonomi daerah hingga memberi nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami berkomitmen untuk menjalankan operasi yang bertanggung jawab, mematuhi prinsip Good Mining Practices (GMP) serta standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang tinggi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” kata Boyke dalam keterangan resmi dikutip Rabu (1/10).
Ia menambahkan, perusahaan berkomitmen menjalankan operasi sesuai prinsip Good Mining Practices (GMP) serta standar Environmental, Social, and Governance (ESG). Dengan demikian, manfaat proyek ini diharapkan dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Setelah tahap first mining, kegiatan penumpukan bijih (ore stacking) akan dilanjutkan di fasilitas heap leach. Perseroan menargetkan produksi emas perdana dapat terealisasi pada kuartal pertama 2026.
Boyke sebelumnya menyebut, perseroan menargetkan produksi emas sebesar 75 ribu hingga 85 ribu ons dari Proyek Emas Pani di Gorontalo pada tahun 2026. Direktur Utama EMAS Boyke Poerbaya Abidin menyebut, proyek tambang raksasa tersebut diperkirakan rampung akhir tahun ini dan mulai memproduksi emas perdana pada kuartal pertama 2026.