Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada perdagangan saham Selasa (11/11). Dow Jones Industrial Average hingga mencapai rekor penutupan baru, sementara Nasdaq Composite turun karena investor mengalihkan dana dari saham teknologi ke saham-saham lain dengan valuasi rendah.

Indeks Dow Jones meroket 559,33 poin atau 1,18% ke rekor penutupan baru di 47.927,96, didorong aksi beli pada saham-saham blue chip seperti Merck, Amgen, dan Johnson & Johnson. Sementara itu, S&P 500 naik tipis 0,21% ke 6.846,61. Berbanding terbalik, Nasdaq Composite yang kumpulan saham teknologi merosot 0,25% ke 23.468,30.

Kemudian saham CoreWeave, penyedia infrastruktur cloud untuk AI, menjadi salah satu yang tertekan dalam perdagangan tersebut. Harga sahamnya merosot lebih dari 16% setelah proyeksi perusahaan dianggap mengecewakan investor, sehingga menekan sektor AI. 

Tak hanya itu saham Nvidia juga turut melemah sekitar 3%. Penurunan menyusul keputusan SoftBank yang melepas seluruh kepemilikannya di perusahaan cip tersebut dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar atau sekitar Rp 83,48 triliun.

Sektor AI kembali tertekan bulan ini seiring kekhawatiran pasar terhadap valuasi yang dinilai sudah terlalu tinggi. Hal itu yang mendorong Nasdaq anjlok 1% sejak awal bulan. 

Pada perdagangan Selasa, sejumlah saham teknologi besar seperti Micron Technology, Oracle, dan Palantir ikut turun mengikuti koreksi CoreWeave dan Nvidia.

Harga saham Micron terkoreksi merosot 5%, Oracle turun sekitar 2%, dan Palantir melemah lebih dari 1%. Indeks sektor teknologi S&P 500, melalui ETF Technology Select Sector SPDR (XLK), juga turun sekitar 1%.

Manajer portofolio Logan Capital Management, Bill Fitzpatrick, menilai tekanan itu karena level valuasi yang sudah tinggi. Menurutnya, meski perusahaan-perusahaan teknologi merupakan penghasil arus kas kuat, posisi valuasi saat ini membuat sentimen investor cepat berubah hanya karena kabar negatif.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan valuasi S&P 500 yang saat ini diperdagangkan di atas 20 kali laba banyak terdorong oleh kinerja “Magnificent Seven” dan kelompok teknologi besar lainnya. Sementara masih ada sejumlah perusahaan yang tertinggal dalam reli pasar. 

“Jika terjadi koreksi pada sektor itu, bisa menjadi sinyal bahwa euforia pasar sudah bergerak terlalu jauh,” ujar Fitzpatrick, dikutip CNBC, Rabu (12/11).

Lebih lanjut, sentimen negatif di Nasdaq semakin diperparah oleh laporan terbaru ADP yang menunjukkan penciptaan lapangan kerja sektor swasta selama empat minggu hingga 25 Oktober turun lebih dari 11.000 per minggu. Angka itu berlawanan dengan kenaikan tenaga kerja di Oktober yang dilaporkan pekan lalu.

Selain itu, indeks utama di AS menguat setelah shutdown pemerintah yang berkepanjangan mungkin segera berakhir. Senat pada Senin (10/11) malam menyetujui rancangan undang-undang untuk mengakhiri penutupan tersebut.

Namun, kesepakatan itu tidak mencakup tuntutan Demokrat agar perpanjangan subsidi Affordable Care Act dimasukkan ke dalam setiap rancangan pendanaan. Sebaliknya, usulan tersebut menjadwalkan pemungutan suara mengenai kredit pajak pada Desember mendatang.

Fitzpatrick menilai bahwa disfungsi politik memiliki konsekuensi yang harus ditanggung, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga secara global. Meski kesepakatan mungkin dapat dicapai, kata Fitzpatrick, tingkat polarisasi yang terjadi masih sangat tinggi.

“Itu menjadi salah satu faktor yang mendorong investor lebih memilih saham berkualitas tinggi,” ujar Fitzpatrick. 

 
 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila