Nasib Saham Unggulan MSCI: DEWA, PTRO, BUMI dan BUVA Rontok hingga Sentuh ARB
Saham-saham konglomerat yang sempat diproyeksikan masuk indeks bergengsi Morgan Stanley Capital International (MSCI) kini tertekan. Di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, hingga PT Petrosea Tbk (PTRO).
Hal itu usai MSCI menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia karena kekhawatiran kepemilikan terkonsentrasi. Imbasnya bobot Indonesia di Morgan Stanley Capital International (MSCI) Emerging Markets berpotensi turun.
Seiring dengan itu, saham Grup Bakrie–Salim DEWA anjlok hingga auto reject bawah (ARB) 14,93% ke Rp 570. Saham BUMI yang juga digadang masuk MSCI ikut ARB 14,53% ke Rp 294.
Kemudian saham saham konglomerat Prajogo Pangestu PTRO juga merosot hingga ARB 14,87% ke Rp 7.300. Lalu saham Happy Hapsoro juga ARB 15% merosot hingga ke level Rp 1.445.
Seiring dengan itu Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok hingga 7,71% ke level 8.287 pada perdagangan saham intraday hari ini, Rabu (28/1) pukul 11:15 WIB. Sebanyak 765 emiten terpantau di zona merah dan hanya 26 emiten yang naik.
Volume yang diperdagangkan tercatat Rp 26,91 triliun. Sementara volume Rp 38,99 miliar dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 15.023 triliun.
Bobot Indonesia di MSCI Berpotensi Turun
Adapun salah satu hasil pengumuman MSCI tersebut adalah MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Hal ini dilakukan menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Dia menyatakan, kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia.
Meskipun beberapa investor menyatakan dukungan penggunaan data KSEI tersebut. Investor menyoroti masalah fundamental terkait kelayakan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat.
Kendati demikian, investor mengakui bahwa terdapat beberapa peningkatan kecil pada data saham beredar Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1).
Poin-Poin Kebijakan MSCI
Menyikapi kekhawatiran investor terhadap perubahan metodologi penghitungan free float di Indonesia, MSCI menyatakan akan menerapkan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks terkait sekuritas Indonesia yang timbul dari tinjauan indeks berkala, termasuk tinjauan indeks untuk periode Februari 2026. Kebijakan ini akan diberlakukan efektif segera.
Adapun ketentuan pembekuan sementara tersebut meliputi:
- MSCI membekukan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS)
- MSCI tidak akan menerapkan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI)
- MSCI tidak akan menerapkan migrasi naik antar segmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.
Menurut MSCI, langkah ini diambil untuk menekan risiko perputaran indeks dan risiko investasi, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk meningkatkan transparansi secara substansial.