IHSG Merah di Hari Pertama Danantara Trading Februari, Ini Kata Pandu Sjahrir
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak di zona merah sepanjang hari, meski Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai aktif melakukan transaksi di pasar saham pada perdagangan Senin (2/2).
Berdasarkan data intraday Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 15.12 WIB, IHSG tercatat melemah 5,37% ke level 7.882. Volume perdagangan mencapai 43,44 miliar saham dengan frekuensi transaksi 2,66 juta kali dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 14.185 triliun.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, pelemahan indeks tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, investor seharusnya kembali berfokus pada fundamental dan valuasi saham, bukan pergerakan jangka pendek.
Pandu mengatakan, sebagai investor, yang mesti dilihat adalah fundamental dan valuasi. Dan yang dinamakan investasi itu semestinya ada pemikiran untuk jangka menengah (medium) sampai long term. Ia menilai kondisi pasar saat ini justru membuka peluang bagi saham-saham dengan fundamental, valuasi, dan likuiditas yang baik.
"Jangan karena sehari melihat, 'Oh, hari ini mungkin merah,' tapi untuk saham-saham yang punya valuasi yang baik, fundamental yang baik, likuiditas yang baik, maybe it’s a good time to buy," kata Pandu kepada wartawan di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (2/2).
Dia menilai, pada hari ini investor mulai kembali melakukan akumulasi. Pandu juga memastikan Danantara telah aktif bertransaksi di pasar saham sejak hari ini dengan membeli saham-saham berfundamental kuat dan memiliki arus kas yang solid.
Pandu mengatakan, hari ini adalah hari pertama perdagangan setelah pengumuman penting yang disampaikan pada akhir pekan lalu. Meski aktivitas perdagangan terlihat melambat, ia mencatat adanya sinyal positif berupa net foreign buy pada perdagangan sesi I.
Selain itu, ia mengamati koreksi lebih banyak terjadi pada saham-saham dengan valuasi tinggi atau yang dinilai kurang menarik untuk investasi. Sebaliknya, saham-saham berfundamental baik justru mencatatkan pembelian bersih, terutama oleh investor institusional.
“Tapi kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif. Jadi ini menarik juga kalau lihat top 10, top 15 buy, (serta) top 10, top 15 sell, seperti yang kita bicarakan Hari Minggu kemarin malah memang sekarang mulai terjadi,” ujarnya.
Sebelumnya, Danantara memastikan bakal aktif bertransaksi di pasar saham domestik dalam enam bulan ke depan dengan menggandeng manajer investasi (MI). Kehadiran Danantara di pasar diharapkan mampu menciptakan efek penarik (crowding in) bagi investor lain, khususnya investor institusional.
"Jadi memang strategi awal kami dalam enam bulan ke depan ini melalui manajer investasi. Memang tidak langsung ini. Kenapa? Karena kami juga ingin crowd in para pemain yang ada," ujar Pandu di Jakarta, Minggu (1/2).
Dia mengklaim Danantara telah masuk ke pasar saham secara berkala sejak Desember 2025. Namun, intensitas investasi tersebut akan ditingkatkan secara signifikan, dengan rencana akselerasi dimulai pada pekan ini, Senin (2/1).
Ia menyebut sekitar 50% total dana kelolaan Danantara berpotensi ditempatkan di pasar modal pada tahun. ini. Meski memiliki ruang untuk berinvestasi secara global, Pandu mengklaim fokus utama tetap diarahkan pada aset domestik.
"Karena kami bisa investasi di luar juga, tapi kami akan melihat Indonesia, keberpihakan kepada Indonesia," katanya.
Pandu menilai kondisi pasar saat ini memberikan peluang yang menarik dari sisi valuasi. Fundamental perekonomian Indonesia dinilai masih cukup kuat untuk menopang peningkatan alokasi investasi di pasar saham.