IHSG Pekan Ini Diprediksi Volatil, Asing Mulai Akumulasi Saham-Saham Besar?
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih diwarnai volatilitas, seiring tekanan sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya mereda. IHSG melemah tajam pada pekan lalu dan kembali berada di bawah level psikologis 8.000.
Head of Retail Marketing & Product Development Division PT Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menyebutkan, pada periode perdagangan 2–6 Februari, IHSG ditutup di level 7.935 atau turun hampir 5% dalam sepekan. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh revisi penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s, serta sentimen negatif dari sejumlah lembaga global lainnya.
“Kalau melihat proyeksi pergerakan IHSG pekan ini, kondisinya memang masih penuh volatilitas,” ujar Reza kepada Katadata, Senin (8/2).
Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih berisiko melanjutkan koreksi menuju area support di kisaran 7.712–7.785. Namun demikian, peluang rebound tetap terbuka apabila indeks mampu bertahan di atas level support tersebut, dengan potensi penguatan ke area 8.284–8.440.
Di tengah tekanan pasar, Reza menyoroti adanya sinyal positif dari pergerakan investor asing. Pada akhir pekan lalu, investor asing tercatat mulai kembali melakukan aksi beli bersih (net buy). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi salah satu yang mencatatkan transaksi terbesar, dengan nilai sekitar Rp 679,9 miliar.
Menurut Reza, aksi beli asing tersebut dapat diartikan dalam dua perspektif. Pertama, sebagai strategi akumulasi pada level harga yang sudah terkoreksi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan BUMN yang dinilai memiliki fundamental relatif kuat.
Kedua, aksi tersebut dapat dimaknai sebagai sinyal kepercayaan jangka menengah, di mana valuasi saham-saham perbankan saat ini dinilai cukup menarik meski outlook Indonesia mengalami revisi.
“Net buy asing di BMRI bisa menjadi indikasi bahwa mereka mulai bersiap mengakumulasi saham-saham besar di level diskon,” kata Reza.
Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa tekanan dari sentimen global masih berpotensi membayangi pasar dalam jangka pendek. Sejumlah faktor seperti arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, serta pergerakan nilai tukar rupiah masih akan memengaruhi dinamika pasar saham domestik.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Reza memperkirakan IHSG pada pekan ini masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Aksi beli investor asing dinilai dapat menjadi bantalan agar koreksi indeks tidak berlangsung terlalu dalam.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (6/2), investor asing membukukan aksi beli bersih sebesar Rp 944 miliar untuk seluruh pasar dan Rp 774,5 miliar untuk pasar reguler saja. Aksi itu berlangsung di tengah pelemahan Indeks IHSG yang ditutup melemah di bawah level 8.000. Saham BMRI dan PT Bumi Resources Indonesia Tbk (BUMI) menjadi dua saham yang paling banyak dikoleksi investor asing.
Mengacu pada data Stockbit Sekuritas, nilai beli bersih investor asing pada saham BMRI mencapai Rp 679,9 miliar, sedangkan BUMI mencatatkan net buy sebesar Rp 171,48 miliar. Pada penutupan perdagangan, harga saham BMRI tercatat stagnan di level Rp 5.050, sedangkan saham BUMI turun 5,83% ke posisi Rp 226.