Belanja Pusat Melonjak 53%, Defisit APBN Capai Rp 54,6 T per Januari 2026

ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kiri) menyampaikan paparannya saat diskusi panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). Forum Indonesia Economic Outlook 2026 merupakan wadah untuk menyampaikan arah kebijakan ekonomi pemerintah sekaligus meyakinkan investor mengenai ketahanan ekonomi Indonesia.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
23/2/2026, 12.31 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Januari 2026 tercatat Rp 54,6 triliun atau sekitar 0,21% dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

“Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2). 

Ia juga mencatat keseimbangan primer, yang mencakup total pendapatan negara dikurang belanja negara di luar pembayaran bunga utang, mencatatkan defisit  Rp 4,2 triliun. Menurut dia, angka ini menunjukkan posisi fiskal yang tetap terkelola secara hati-hati. 

“Dari sisi pembiayaan, realisasi mencapai Rp 105,1 triliun atau 15,2% dari target. Dilakukan secara terukur dan antisipatif untuk menjaga likuiditas serta stabilitas pasar keuangan,” katanya. 

Sementara itu, Purbaya menegaskan realisasi APBN menunjukkan kinerja yang solid. Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menuturkan, pendapatan negara telah mencapai Rp 172,7 triliun atau 5,5% dari target APBN tumbuh sebesar 9,5% year on year. 

“Kinerja ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tetap kuat serta PNBP yang mulai menunjukkan pemulihan di luar komponen nonberulang tahun lalu,” kata dia. 

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari pagu APBN. Realisasi ini naik 25,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan belanja, terutama didorong oleh belanja pemerintah pusat yang melonjak 53,3% menjadi Rp 131,9 triliun. Sedangkan transfer ke daerah hanya naik 0,6% menjadi Rp 95,3 triliun.

Purbaya mengatakan, akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun khususnya dilakukan untuk mendukung program prioritas, menjaga daya beli, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama. 

“Kalau anda lihat pertumbuhan pajak di bulan Januari itu tumbuhnya 30,7% dibanding dengan tahun lalu,” kata Purbaya. 

Purbaya menyimpulkan,  APBN 2026 secara keseluruhan tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi. 

“Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, dan defisit yang tetap terkendali, kita optimis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026,” kata Purbaya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman