Mayoritas Indeks Wall Street Merah, Tertekan Harga Minyak dan Saham Teknologi
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mayoritas ditutup turun pada perdagangan Senin (30/3). Penurunan terjadi karena lonjakan harga minyak dan tekanan pada saham teknologi.
Indeks S&P 500 turun 0,39% ke level 6.343,72 atau sekitar 9% di bawah rekor penutupan tertingginya. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,73% ke level 20.794,64. Adapun Dow Jones Industrial Average naik tipis 49,50 poin atau 0,11% ke level 45.216,14.
Kepala ekuitas Aptus Capital Advisors David Wagner menilai investor mulai terbiasa dengan pola pergerakan pasar yang baru. Dia mengatakan, pasar cenderung turun pada Kamis dan Jumat, namun naik pada awal pekan.
Dalam 90 hari perdagangan terakhir, kinerja pasar pada periode Kamis–Jumat tertinggal sekitar 7% dibandingkan Senin–Rabu. Menurutnya, hampir seluruh selisih tersebut terjadi sejak konflik Iran dengan Amerika Serikat-Israel pecah pada 28 Februari
“Investor seperti bersiap menghadapi kabar buruk menjelang akhir pekan dengan mengurangi risiko, lalu kembali masuk ke pasar pada awal pekan,” ujar Wagner dikutip dari CNBC Selasa (31/3).
Di sisi lain, indeks volatilitas CBOE Volatility Index atau VIX yang dikenal sebagai indikator ketakutan pasar sempat menembus level 30 selama sesi perdagangan.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 3,25% ke US$ 102,88 per barel, tertinggi sejak 19 Juli 2022. Sementara brent crude naik tipis 0,19% ke US$ 112,78 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah dengan lonjakan sekitar 55%.
Bos Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, meskipun harga energi meningkat, ekspektasi inflasi masih terkendali dengan baik dalam jangka menengah. Bank sentral mungkin akan menghadapi pertanyaan terkait kebijakan ke depan, namun dampak ekonomi saat ini masih belum jelas.
Sementara utu, Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik dengan Iran. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebut AS tengah melakukan diskusi serius dengan rezim baru yang lebih rasional.
Meski demikian, Trump juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali, AS akan meningkatkan tekanan dengan menargetkan infrastruktur energi Iran.