Prospek Saham Sawit TAPG, LSIP hingga AALI terkait Implementasi Program B50

ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/tom.
Pekerja mengangkut tandan buah kelapa sawit di kawasan PT Perkebunan Nusantara IV, Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (24/10/2024).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
8/4/2026, 10.45 WIB

Pemerintah berencana mulai mengimplementasikan kebijakan biodiesel 50% atau B50 pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini diperkirakan memangkas kuota ekspor crude palm oil (CPO) hingga tujuh juta ton. Hal tersebut bakal menambah permintaan baru yang lebih stabil bagi perusahaan sawit dalam negeri.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang terbuat dari minyak nabati atau hewani yang dapat digunakan untuk menggantikan solar pada mesin diesel. Indonesia saat ini telah menerapkan campuran biodiesel 40% atau B-40.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai implementasi B50 berpotensi menjadi sentimen positif jangka menengah bagi saham-saham sektor sawit.

Menurut dia, kebijakan tersebut dapat meningkatkan visibilitas permintaan (demand) serta menekan volatilitas harga CPO. Kendati demikian, pasar tetap akan mencermati faktor global, termasuk pergerakan harga CPO dan permintaan ekspor.

“Namun pasar tetap akan mempertimbangkan faktor global seperti harga CPO dan permintaan ekspor,” ujar Elandry kepada Katadata, dikutip Rabu (8/4).

Dia menjelaskan, harga biodiesel domestik mengacu pada mekanisme pemerintah melalui harga indeks pasar (HIP). Dengan skema ini, potensi kenaikan harga jual biodiesel tidak setinggi harga di pasar ekspor.

Sebagai gambaran, HIP biodiesel umumnya berada di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 15.500 per liter, tergantung pada pergerakan harga CPO.

Rekomendasi Saham Sawit

Seiring prospek tersebut, Elandry merekomendasikan sejumlah saham emiten sawit. Ia menjagokan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dengan target harga di kisaran 2.000–2.100, didukung integrasi hilir dan eksposur pada biodiesel.

Selain itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dinilai menarik dengan target 1.800–1.900 seiring efisiensi operasional dan diversifikasi bisnis.

Adapun PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dipandang lebih defensif dengan target harga 1.600–1.700.

Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) direkomendasikan hold dengan target 8.200–8.500, mengingat kinerjanya lebih sensitif terhadap fluktuasi harga CPO global dibandingkan emiten lainnya.

Implementasi B50 Dorong Permintaan Domestik

Elandry menjelaskan, implementasi B50 akan meningkatkan permintaan CPO domestik secara signifikan seiring kenaikan porsi campuran dari B35 menjadi B50.

Secara kasar, kebutuhan CPO untuk biodiesel berpotensi meningkat sekitar 15% hingga 25% dibandingkan skema sebelumnya, bergantung pada realisasi distribusi dan kapasitas produksi fatty acid methyl ester (FAME).

Peningkatan tersebut menciptakan buffer permintaan baru yang dapat menahan tekanan harga saat ekspor melemah. Kendati begitu, ia menilai dampaknya lebih bersifat peralihan pasar dari ekspor ke domestik, bukan lonjakan permintaan total yang agresif.

“Namun demikian, ini lebih bersifat substitusi pasar (ekspor ke domestik), bukan murni lonjakan permintaan total yang agresif,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut proses uji coba implementasi B-50 hampir selesai. Pemerintah bakal resmi menerapkan kebijakan ini secara penuh pada 1 Juli 2026. 

“Sudah diuji pakai di beberapa peralatan seperti kapal, kereta api, truk, dan alat berat. Prosesnya masih berlangsung tapi akan segera final (selesai), sampai dengan hari ini (berjalan) cukup baik,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Senin (6/4).

Bahlil mengatakan, implementasi B-50 penting karena  digunakan sebagai opsi energi alternatif. “Bayangkan kalau kita tidak melakukan diversifikasi (sumber energi), kita mau berharap pada siapa (saat kondisi seperti ini)?” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri