DCII Kantongi Fasilitas Kredit Jumbo Rp 17 T, Untuk Apa?

Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti
6/5/2026, 07.16 WIB

Emiten pusat data milik Otto Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memperoleh fasilitas kredit investasi senilai Rp 17 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Dana tersebut, terutama akan digunakan untuk pembangunan dan penyelesaian fasilitas pusat data baru.

Corporate Secretary DCI Indonesia Indri Koesindrijastoeti H mengatakan, fasilitas kredit ini akan menunjang kebutuhan pembiayaan belanja modal perseroan seiring meningkatnya permintaan kapasitas pusat data dari pelanggan.

Ia menjelaskan, perseroan akan menyerahkan sejumlah aset sebagai jaminan atas fasilitas kredit tersebut. Aset tersebut mencakup bidang tanah beserta bangunan yang dimiliki maupun yang akan dibangun, serta seluruh mesin dan peralatan pusat data milik perseroan, baik yang telah dimiliki maupun yang akan diperoleh di masa mendatang.

Selain itu, rekening giro perseroan di BCA juga akan dijadikan agunan sementara hingga seluruh jaminan lainnya diikat secara sempurna. Jaminan juga mencakup tagihan atas klaim asuransi terkait aset yang diagunkan.

Perseroan menyebut skema penjaminan tersebut telah mendapat persetujuan pemegang saham melalui Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham DCII Nomor 99 tertanggal 15 April 2026.

Dalam keputusan tersebut, pemegang saham menyetujui pengalihan dan atau penjaminan lebih dari 50% kekayaan bersih perseroan untuk memperoleh pendanaan baru dari pihak ketiga, termasuk perbankan.

Manajemen menilai penambahan fasilitas kredit ini tidak akan berdampak negatif terhadap operasional maupun kondisi keuangan perseroan. Sebaliknya, fasilitas pembiayaan jumbo tersebut dinilai akan memperkuat struktur pendanaan jangka panjang sekaligus mendukung strategi ekspansi kapasitas pusat data.

Perseroan juga menyebut fasilitas ini akan memastikan penyelesaian layanan yang telah terkontrak dengan pelanggan.

“Secara substansial, transaksi ini bersifat aditif terhadap kapasitas keuangan perseroan dan tidak merubah kegiatan usaha utama perseroan,” ujar Indri dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip Rabu (6/5).

Merujuk bahan paparan publik DCII, perkembangan portofolio bisnis perseroan melingkupi ekspansi layanan komputasi awan, kecerdasan buatan (AI) dan kebutuhan digital perusahaan. 

Hingga akhir 2025, DCII telah memiliki data center dengan total kapasitas terpasang sebesar 128 megawatt (MW). Perseroan juga mencatat potensi pengembangan kapasitas yang dapat melampaui 2.000 MW dalam jangka panjang.

Saat ini, portofolio pusat data DCI tersebar di sejumlah lokasi strategis di Indonesia, baik untuk kategori hyperscale data center maupun edge data center.

Untuk kategori hyperscale, DCI mengoperasikan H1 Campus Cibitung dengan kapasitas IT sebesar 73 MW yang masih dapat ditingkatkan hingga 220 MW.

Selain itu, perseroan memiliki H2 Campus Karawang dengan kapasitas 27 MW yang dapat dikembangkan hingga lebih dari 600 MW.

Sementara itu, H3 DC Park Sky Bintan menjadi proyek ekspansi terbesar dengan kapasitas awal yang dirancang dapat diskalakan hingga lebih dari 1.000 MW.

Di segmen edge data center, DCI mengoperasikan E1 DC Jakarta dengan kapasitas 19 MW serta E2 DC Surabaya dengan kapasitas 9 MW.

Pada kuartal pertama 2026, DCII membukukan laba bersih sebesar Rp 377,75 miliar. Jumlah tersebut turun 9,8% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 418,84 miliar.   

Pendapatan perseroan tercatat naik menjadi Rp 858,10 miliar dari Rp 773,55 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). Pendapatan perseroan berasal dari jasa penyewaan ruang atau colocation senilai Rp 808,40 miliar dan pendapatan lain-lain senilai Rp 49,69 miliar.  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri