Adu Kinerja Perbankan Raksasa, Berapa Target Saham BBCA, BBRI dan BMRI?
Sejumlah perbankan raksasa RI tercatat membukukan kinerja keuangan solid sepanjang kuartal pertama 2026. Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), hingga PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 14,68 triliun pada kuartal I 2026. Laba tersebut tumbuh 3,80% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding kuartal I 2025 yang sebesar Rp 14,15 triliun.
Berdasarkan perhitungan itu, pendapatan bersih bunga dan syariah BCA kuartal I 2026 sebesar Rp 21,11 triliun, turun 0,05% (yoy). Per 31 Maret 2026, BCA membukukan total aset Rp 1,64 kuadriliun, naik 3,40% dibanding posisi 31 Desember 2025.
CGS International Sekuritas Indonesia menyebut BBCA telah melakukan uji stres dengan asumsi harga minyak mentah berada di kisaran US$ 130–150 per barel dan nilai tukar rupiah di level Rp 18.000–19.000 per dolar AS.
Dalam skenario tersebut, rasio kredit bermasalah (NPL) diperkirakan meningkat menjadi 3–3,2% pada FY26F, dari proyeksi awal 1,8–2%. Sementara pertumbuhan kredit berpotensi melambat hingga stagnan atau hanya tumbuh low single-digit.
Meski demikian, CGS International Sekuritas merekomendasikan untuk mengoleksai saham BBCA. Hal ini didukung oleh basis pendanaan yang dinilai solid serta penerapan manajemen risiko yang prudent. Target harga juga tidak berubah di level Rp 10.000, yang dihitung menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM).
“Re-rating catalyst: NIM dan pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi dari perkiraan. Downside risk: memburuknya kualitas kredit dan persaingan kredit yang lebih tinggi,” tulis analisis CGS International Sekuritas.
Berikut laba dan target saham perbankan raksasa:
| No | Perusahaan | Laba Kuartal I 2026 | Target Harga Saham dari Mirae Asset Sekuritas |
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 14,68 triliun | TP1: 6.975TP2: 7.150 TP3: 8.350 |
| 2 | PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) | Rp 5,6 triliun | TP1: 3.890TP2: 3.950TP3: 4.520 |
| 3 | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 15,5 triliun | 3.220 |
| 4 | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 15,4 triliun | TP1: 4.920TP2: 5.350TP3: 6.200 |
Sumber: Kinerja Keuangan, Senior Teknikal Analis Mirae Asset Nafan Aji Gusta
Prospek BNI
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI membukukan laba bersih sebesar Rp 5,6 triliun pada kuartal I 2026. Angka tersebut naik 3,7% dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,4 triliun.
Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BNI tumbuh 20,1% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 919,3 triliun. Pertumbuhan ini ditopang penguatan dana murah atau current account saving account (CASA) yang naik 26,6% secara tahunan menjadi Rp 731,6 triliun.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 12,1% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan nonbunga naik 12,6% didorong kenaikan pendapatan berbasis komisi dari transaksi digital melalui platform dan e-channel.
Kinerja tersebut menopang pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp 9,3 triliun, tertinggi untuk capaian kuartal I dalam beberapa tahun terakhir.
Kinerja BRI
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba bersih sebesar Rp 15,5 triliun hingga kuartal pertama 2026 atau melonjak 13,7% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, perusahaan menyalurkan kredit sebesar Rp 1.562 triliun sepanjang kuartal I 2026. Dari total tersebut, BRI merealisasikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 47,09 triliun.
Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.555 triliun atau tumbuh 9,4%. Kemudian untuk loan to deposit ratio (LDR) perseroan meningkat menjadi 87,66% per kuartal I-2026 dengan dana murah (CASA) pada level 68,1% sepanjang kuartal pertama 2026.
OCBC Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBRI, dengan target harga berbasis Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.500. Target ini berdasarkan pada asumsi return on equity (ROE) 18,7% dan cost of equity 10,6%.
Secara valuasi, saham BBRI dinilai masih menarik, tercermin dari PER 2026F sebesar 7,4 kali dan PBV 1,4 kali, atau sekitar 2,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun, yang menunjukkan valuasi relatif murah (undemanding).
OCBC tetap optimistis terhadap prospek BBRI, didukung oleh beberapa faktor utama, yakni pemulihan pertumbuhan kredit secara bertahap seiring kondisi makro yang kondusif, margin bunga bersih (NIM) yang tetap resilien, serta kualitas aset yang terjaga dengan pencadangan yang memadai dan biaya kredit yang lebih rendah.
Selain itu, kinerja juga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee income), peningkatan dana murah (CASA), serta efisiensi operasional melalui digitalisasi, ditambah dengan pengelolaan likuiditas dan permodalan yang tetap prudent.
Kinerja Bank Mandiri
Di tengah tekanan global yang belum mereda akibat meningkatnya tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara year on year (YoY).
Adapun return on equity (ROE) di level 22,1%, dengan capital adequacy ratio (CAR) di level 19,7%.
Dari sisi penyaluran kredit, penyaluran per Maret 2026 tercatat sebesar Rp1.530 triliun atau naik 17,4% YoY, di atas rata-rata industri yang tumbuh 9,37 persen YoY (data OJK per Februari 2026). Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp 1.675 triliun atau meningkat 21,1% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang sebesar 13,2% pada periode yang sama.
UOB Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham BBRI dengan target harga Rp 5.150. Penilaian tersebut didasarkan pada valuasi 1,5x price to book value (P/B), yang dihitung menggunakan metode Gordon Growth Model dengan asumsi ROE 17,1%, pertumbuhan 4%, dan cost of equity 12,7%.
Adapun untuk proyeksi kinerja, tidak ada perubahan estimasi laba. Saat ini, kredit kepada Agrinas masih dikategorikan sebagai pinjaman berisiko nol, namun berpotensi disesuaikan setelah pembayaran pertama dilakukan pada kuartal III 2026, mengingat masih dalam masa tenggang (grace period).
Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan meliputi kondisi makro yang lebih lemah dari perkiraan, volatilitas rupiah yang berpotensi menunda penurunan suku bunga, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan kredit dan kualitas aset.
“Dan potensi perubahan regulasi yang dapat memengaruhi operasional perbankan,” tulis analisis UOB Kay Hian.