Dolar AS Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Purbaya Klaim Subsidi Energi Masih Aman
Nilai tukar rupiah menembus level psikologis baru Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi kurs rupiah saat ini belum mengganggu skenario perhitungan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN).
“Waktu kita hitung kemarin US$ 120 per barel, ya rupiah dekat-dekat situ, jadi enggak ada masalah,” kata Purbaya di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (13/5).
Ia menilai, tak perlu membuat skenario baru terkait subsid energi. besaran subsidi energi lantaran harga minyak dan kurs yang ada saat ini masih relevan dengan asumsi terakhir yang dibuat timnya.
Adapun Purbaya pada hari ini menggelar pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Meski demikian, ia mengaku pertemuannya di kantor Bahlil itu tidak membahas tekanan pelemahan rupiah terhadap subsidi energi.
“Pak Bahlil bukan ngomong itu. Ngomong untuk memperkuat pendapatan negara dari sektor migas, termasuk pertambangan,” kata dia.
Di sisi lain, Purbaya menyebut langkah yang akan tengah ditempuh pemerintah untuk stabilisasi rupiah akan difokuskan pada menjaga pasar surat berharga negara (SBN), bukan melalui intervensi langsung di pasar valuta asing.
Penyebab Rupiah Jeblok
BI sebelumnya menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika global. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia, serta kenaikan suku bunga AS menjadi penyebab rupiah dan mata uang berkembang lainnya melemah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, tekanan terhadap mata uang dialami mayoritas mata uang negara berkembang. Sejak akhir Februari 2026 ,harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40%. Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5% juga ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang global.
“Kalau kita lihat sekarang US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5%. Akhir Februari masih sekitar 4%," kata Denny di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (13/5).
Denny mengatakan, pelemahan mata uang juga dialami peso Filipina, baht Thailand, rupee India, rand Afrika Selatan, peso Cile hingga won Korea Selatan.
Faktor Domestik
Di sisi lain, ada pula faktor domestik yang menyebabkan pelemahan rupiah. BI mencatat adanya peningkatan permintaan dolar AS dipicu musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Namun demikian, Denny mengatakan, BI optimistis dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya dengan aktif berada di pasar domestik maupun internasional.
“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa. Kita kemudian standby di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah,” kata dia.
BI juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding banyak negara lain. Yang menurut Denny tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang stabil, serta pengelolaan utang luar negeri yang dinilai prudent.
“Oleh sebab itu kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian, dan lembaga itu mampu nanti membuat rupiah akan stabil dan juga cenderung menguat,” kata dia.
Kurs rupiah hari ini ditutup menguat 0,3% di level 17.475 per dolar AS pada perdagangan hari ini, meski sempat melemah hingga menyentuh 17.552 per dolar AS.