Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mayoritas turun pada perdagangan Rabu (8/7).

Koreksi dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir saat menghadiri KTT NATO di Turki. Pernyataan tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak dan memicu aksi jual di pasar saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 576,76 poin atau 1,09% ke level 52.348,39. S&P 500 terkoreksi 0,28% menjadi 7.482,71. Sebaliknya, Nasdaq Composite naik tipis 0,2% dan ditutup di level 25.870,65.

Harga minyak dunia melesat. Minyak mentah Brent naik 5,43% menjadi US$ 78,19 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,37% ke US$ 73,52 per barel.

"Saya rasa semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah," kata Trump dikutip dari CNBC, Kamis (9/7).

Beberapa jam kemudian, Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran dengan mengatakan AS akan menghantam mereka dengan keras malam ini.

Pernyataan itu muncul setelah AS mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan besar terhadap Iran pada Selasa (7/7) sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte membela langkah Washington. Dalam keterangannya kepada wartawan di sela KTT NATO di Ankara, Turki, ia menyebut serangan tersebut benar-benar diperlukan.

"Ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggarnya kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan kapal-kapal yang diserang sangat penting bagi Amerika Serikat memberikan respons yang tegas," ujar Rutte.

Kenaikan harga minyak mendorong saham-saham sektor energi melesat. Saham ConocoPhillips naik 2%, Chevron bertambah 1%, sedangkan Marathon Petroleum melesat 5%.

Sebaliknya, saham sektor konsumen tertekan karena berpotensi terdampak kenaikan biaya energi. Saham Home Depot turun 2%, McDonald's melemah lebih dari 1%, sementara Booking Holdings anjlok 4%.

Analis Pasar Senior Capital.com Daniela Hathorn mengatakan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah telah mematahkan optimisme pasar yang sebelumnya memperkirakan konflik akan terus mereda.

"Pasar sempat menganggap konflik akan perlahan mereda, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan asumsi tersebut mungkin terlalu dini," kata Hathorn.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri