Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Jumat waktu setempat. (31/7), dipimpin lonjakan saham Amazon. Kendati demikian, pasar masih dibayangi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Indeks Nasdaq Composite naik 1% ke level 25.373,85. Sementara itu, S&P 500 tumbuh 0,7% menjadi 7.489,72, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 276,97 poin atau 0,53% ke level 52.485,03.
Yield obligasi pemerintah AS terus menanjak. Yield obligasi tenor 30 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,25%, level tertinggi sejak 2007. Yield obligasi tenor 10 tahun menembus 4,7%, tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan yield terjadi di tengah keraguan investor terhadap komitmen Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam menekan inflasi. Meski Warsh menegaskan tetap berkomitmen memerangi inflasi, pasar menilai upaya bank sentral menghadapi tekanan harga masih penuh tantangan.
Kepala Strategi Ekuitas US Bancorp Asset Management Terry Sandven mengatakan kenaikan yield obligasi tenor 10 tahun mendekati 5% berpotensi menekan sentimen pasar sekaligus valuasi saham. “Level ini berpotensi menekan sentimen pasar dan valuasi saham," kata dia dikutip dari CNBC Internasional, Senin (3/8).
Menurut dia, pasar saat ini ibarat roller coaster yang dipenuhi ketidakpastian sekaligus peluang. "Di satu sisi, banyak faktor yang mendukung pasar. Inflasi relatif stabil, suku bunga bergerak dalam kisaran tertentu, dan kinerja laba perusahaan masih kuat. Namun di sisi lain, konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan mendorong kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi," ujarnya.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,3% dan ditutup di US$ 84,67 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 1,2% menjadi US$ 90,12 per barel.
Selain pergerakan obligasi dan harga minyak, sentimen pasar dipengaruhi oleh laporan keuangan emiten teknologi, terutama perusahaan hyperscaler dan pelaku industri kecerdasan buatan (AI).
Saham Amazon melesat 15% setelah membukukan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis. Pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud computing) menjadi penopang utama kinerja tersebut sekaligus memperkuat optimisme investor terhadap belanja AI.
Sebaliknya, saham Apple merosot lebih dari 7%. Meski pendapatan kuartal fiskal ketiganya melampaui perkiraan berkat lonjakan penjualan iPhone sebesar 22%, pendapatan dari segmen layanan (services) yang lebih rendah dari ekspektasi membuat saham perusahaan tertekan.
Pergerakan itu menyusul reli kuat pada perdagangan Kamis (30/7) yang dipimpin Microsoft. Saham raksasa perangkat lunak tersebut melonjak 16% setelah melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure yang melampaui ekspektasi pasar.
Reli tersebut menjadi pemulihan setelah Dow Jones anjlok lebih dari 1.100 poin pada Rabu (29/7), yang merupakan penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Meski pasar bergerak volatil sepanjang pekan, ketiga indeks utama tetap mencatatkan kenaikan. Dow Jones dan S&P 500 masing-masing menguat sekitar 1%, sedangkan Nasdaq Composite naik sekitar 1,6%.
Namun secara bulanan, kinerja indeks masih bervariasi. S&P 500 turun 0,1% sepanjang Juli dan Nasdaq melemah 3,2%. Sebaliknya, Dow Jones naik 0,3% dan membukukan kenaikan bulanan selama empat bulan berturut-turut.