Wall Street Turun, Investor Masih Waspadai Ketegangan AS-Iran

Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange
11/8/2026, 06.32 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Senin (10/8). Penurunan terjadi di tengah meningkatnya keraguan AS dan Iran dapat mencapai penyelesaian konflik yang berkelanjutan dalam waktu dekat.

Indeks S&P 500 turun tipis 0,06% ke level 7.753,11, Nasdaq Composite terkoreksi 0,32% menjadi 26.605,36. Sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 60,95 poin atau 0,11% ke level 53.975,98.

“Semua orang sudah lelah dengan tarik-ulur ini. Setiap kali kita melihat peningkatan ketegangan di Timur Tengah, skalanya lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Saya kira hal itu turut memengaruhi kondisi pasar hari ini,” kata Kepala Manajemen Portofolio Horizon Investments Zachary Hill, dikutip dari CNBC, Selasa (11/8).

Namun menurut Hill, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh fundamental perusahaan yang masih kuat selama musim laporan keuangan.

Dari sisi saham, Intel menjadi salah satu pemberat utama Wall Street setelah sahamnya anjlok 4%. Penurunan terjadi setelah perusahaan mengumumkan rencana menerbitkan saham biasa senilai US$ 15 miliar. Saham Nvidia dan Apple juga menjadi pemberat indeks dengan masing-masing turun 2,9% dan 1,5%.

Ketegangan Timur Tengah turut menekan pasar minyak usai Iran menyatakan semakin dekat dengan kesepakatan bersama Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Teheran masih menolak melakukan negosiasi langsung dengan AS hingga sejumlah persyaratan dipenuhi.

Harga minyak mentah pun melonjak pada Senin karena ketidakpastian terkait konflik tersebut masih membayangi pasar. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sekitar 5,1% menjadi US$ 82,13 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik 5% menjadi US$ 87,72 per barel.

Persediaan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS juga telah turun ke level terendah sejak Januari 1983.

Sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street mencatat pekan terbaiknya sejak April. S&P 500 bahkan mengakhiri perdagangan pekan lalu di rekor tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan pasar saham pada akhir pekan lalu turut didorong oleh laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS periode Juli yang menunjukkan kontraksi secara tak terduga. Data tersebut meningkatkan harapan investor bahwa Federal Reserve akan menahan diri dari kenaikan suku bunga.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar kontrak berjangka Fed Funds kini memperkirakan peluang hampir 52% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Angka tersebut turun dari 67% pada pekan sebelumnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri