Wall Street Menguat Imbas Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi New York Stock Exchange
4/9/2026, 07.32 WIB

Bursa saham Wall Street Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Kamis (3/9), seiring turunnya imbal hasil obligasi Treasury AS. Pasar merespons kenaikan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini.

S&P 500 naik 1,06% ke level 7.747,71 dan Nasdaq Composite menguat 1,4% menjadi 26.584,06. Dow Jones Industrial Average melesat 624,16 poin atau 1,18% ke 53.686,11, mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak 4 Agustus.

Snowflake menjadi salah satu penopang pasar dengan lonjakan lebih dari 16%. Saham perusahaan teknologi tersebut melesat setelah kinerja laba dan pendapatan kuartal keduanya melampaui ekspektasi pasar, disertai proyeksi kinerja yang kuat.

Sebaliknya, saham Broadcom turun hampir 3% setelah merilis kinerja kuartal terbarunya. Tekanan terhadap saham terjadi setelah proyeksi pendapatan perusahaan untuk kuartal keempat tahun fiskal berada di bawah ekspektasi pasar.

Di samping itu imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan turun ke level 4,77%. Hal itu setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan cenderung mendukung suku bunga tetap stabil, kecuali data inflasi berikutnya memberikan kejutan. Sehari sebelumnya, imbal hasil Treasury 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak November 2023.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa pekan kemudian menyusut menjadi 50,4%. Angka tersebut turun dari 63,2% sehari sebelumnya.

Pernyataan Waller dan penguatan yen Jepang terhadap dolar AS juga menekan imbal hasil obligasi dan memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Meski harga minyak masih berada di level tinggi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,32% dan ditutup pada US$ 91,30 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun tipis 0,12% menjadi US$ 95,52 per barel.

Kenaikan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir mendorong imbal hasil Treasury. Hal itu karena investor khawatir lonjakan biaya energi akan kembali memanaskan inflasi dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga. Namun, imbal hasil obligasi AS sudah bergerak turun pada Kamis sebelum pernyataan Waller, seiring penguatan yen terhadap dolar AS.

Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall menilai pasar belum sepenuhnya terbebas dari tekanan. Menurutnya, jika harga minyak masih di level tinggi, suku bunga yang tinggi masih menjadi tantangan bagi investor.

Stovall mengatakan Ketua The Fed Kevin Warsh sejauh ini lebih menaruh perhatian pada perkembangan inflasi dibandingkan kondisi pasar tenaga kerja. Ia menilai lemahnya data ketenagakerjaan AS kemungkinan belum cukup untuk mengubah sikap The Fed.

Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi yang kuat, hal tersebut justru dapat memperkuat kekhawatiran The Fed terhadap tekanan inflasi, dan membuka ruang bagi kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

“Kita belum bisa benar-benar mengatakan bahwa sinyal aman telah diberikan,” kata Stovall dikutip dari CNBC International, Jumat (4/9). 



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila