AUTO, DRMA, hingga SMSM Kejar Peluang TKDN 80% dan Proyek Molinas Danantara

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Kementerian Perindustrian terus mengupayakan peningkatan nilai minimun tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada kendaraan listrik hingga 80 persen di 2030 agar mendorong perkembangan industri komponen dan memperkuat struktur industri nasional.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
17/9/2026, 16.42 WIB

Target minimum Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) meningkat menjadi 60% pada 2027-2029. Hal ini membuat emiten-emiten komponen EV kebut-kebutan kapasitas produksi untuk menangkap peluang.

Tak hanya itu, pemerintah menaikkan target TKDN menjadi 80% pada 2030. Kebijakan pengetatan regulasi ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok domestik dan mengoptimalkan keterlibatan usaha lokal dalam ekosistem kendaraan listrik nasional.

Di pasar modal, ada beberapa emiten yang memproduksi komponen otomotif, khususnya EV. Di antaranya PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM). 

Peluang itu juga sejalan di tengah rencana pemerintah mengembangkan proyek Mobil Listrik Nasional (Molinas). Proyek tersebut menjadi salah satu proyek prioritas yang tengah disiapkan PT Danantara Development Management Fund (DDMF).

Managing Director Development Investment DDMF Rachmad Kaimuddin mengatakan Molinas dan Mobil Nasional masuk dalam proyek prioritas DDMF dari total 12 proyek yang berada dalam pipeline perseroan.

“Yang sudah publik saja saya sampaikan ada motor listrik, mobil listrik, coal gasification,” kata Rachmad kepada Katadata beberapa waktu lalu.

Emiten Tangkap Peluang 

Sejumlah emiten komponen otomotif mulai memperkuat bisnisnya di tengah perkembangan industri kendaraan listrik dan meningkatnya tuntutan kandungan lokal.

Teranyar adalah aksi yang dilakukan DRMA. Perseroan baru saja membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) dengan Minth Group, perusahaan asal Cina yang bergerak dalam pembuatan komponen eksterior dan struktural kendaraan.

Perusahaan patungan tersebut bernama PT Dharma Minth Indonesia (DMI). Pembentukan perusahaan itu menjadi bagian dari strategi DRMA untuk mengembangkan bisnis komponen otomotif sekaligus memperluas kapabilitas dalam mendukung kebutuhan industri kendaraan roda empat.

Dalam perusahaan patungan tersebut, DRMA menguasai 49% saham, sedangkan Talentlink Development Ltd memiliki 51% saham.

Minth Group sendiri merupakan perusahaan komponen otomotif global yang melayani lebih dari 80 merek otomotif. Perusahaan tersebut memiliki fasilitas produksi dan kantor di sejumlah negara serta tercatat di Bursa Efek Hong Kong.

Sementara itu, AUTO juga tengah memperkuat posisinya di bawah Grup Astra. PT Astra International Tbk (ASII) sebelumnya menggelar tender sukarela atau voluntary tender offer atas saham AUTO.

Dalam aksi tersebut, ASII menawarkan pembelian sebanyak-banyaknya 238,44 juta saham AUTO atau setara 4,94% dari total saham beredar dengan harga Rp 3.600 per saham.

Head of Corporate Communication Astra, Windy Riswantyo mengatakan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk keyakinan Astra terhadap fundamental bisnis AUTO yang kuat dan tangguh.

Menurut dia, langkah tersebut juga mempertimbangkan kemampuan AUTO dalam menghasilkan arus kas serta prospek pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Windy menyebut Astra tetap berkomitmen mengembangkan bisnis AUTO setelah pelaksanaan tender sukarela tersebut.

“Astra berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan kegiatan usaha AUTO,” kata Windy.

Adapun SMSM mulai mengembangkan produk suku cadang atau komponen yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik, di samping mempertahankan bisnis utamanya di pasar purnajual atau aftermarket dan kendaraan berat atau heavy duty.

Sekitar 85% pendapatan SMSM berasal dari pasar aftermarket. Sementara itu, segmen kendaraan komersial dan berat seperti truk dan bus masih menjadi salah satu penopang utama bisnis perseroan.

SMSM melakukan diversifikasi produk secara bertahap dan selektif untuk menghadapi transisi menuju kendaraan listrik, tanpa meninggalkan segmen bisnis yang selama ini menjadi basis pendapatan perseroan.

Siapa Lebih Unggul?

Melihat persaingan itu, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, prospek emiten komponen otomotif memang masih cukup menarik. Ini terutama karena kenaikan TKDN yang akan mendorong produsen EV meningkatkan local sourcing.

Penetapan kendaraan listrik sebagai proyek strategis nasional juga dapat mempercepat investasi, pembangunan supply chain, serta permintaan komponen lokal. "Namun, manfaatnya tidak otomatis merata karena tetap bergantung pada kemampuan emiten memperoleh kontrak dari principal, kesiapan teknologi, kapasitas produksi dan keekonomian produk," ujar Elandry.

Menurut dia, AUTO memiliki keunggulan diskala usaha, produk yang terdiversifikasi, jaringan aftermarket serta keterkaitan kuat dengan ekosistem Astra.

Posisi itu membuat AUTO relatif resilien dalam masa transisi karena masih memperoleh pendapatan dari kendaraan konvensional sambil mengembangkan komponen EV. Karakternya lebih defensif, meskipun pertumbuhannya mungkin tidak seagresif pemain yang memiliki exposure langsung terhadap proyek EV baru.

Sementara itu, DRMA memiliki growth story yang lebih kuat karena aktif memperluas produksi komponen kendaraan listrik roda dua maupun roda empat. Kenaikan TKDN dapat membuka peluang tambahan order dan meningkatkan utilization rate pabrik.

Namun, investor perlu mencermati kebutuhan capex, kecepatan ramp-up produksi, konsentrasi pelanggan, serta realisasi kontrak karena ekspektasi pertumbuhan yang tinggi biasanya juga membawa execution risk lebih besar.

Sementara itu, SMSM lebih ditopang bisnis filter, radiator, aftermarket dan ekspor sehingga memiliki recurring demand serta diversifikasi pasar yang baik. Eksposur langsung terhadap EV memang tidak sebesar DRMA, tetapi karakter bisnisnya cenderung lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan kendaraan baru domestik.

Secara keseluruhan, ketiganya layak dilirik secara selektif. Elandry mengurutkan, DRMA untuk tema pertumbuhan EV yang lebih agresif, AUTO untuk kombinasi diversifikasi dan transisi EV, sedangkan SMSM untuk karakter defensif berbasis ekspor dan aftermarket.

"Risiko utamanya tetap berasal dari pelemahan daya beli, perlambatan penjualan kendaraan, persaingan komponen impor, serta implementasi kebijakan TKDN yang lebih lambat dari target," kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri