BEI Pamer Pertumbuhan Investor Domestik hingga RNTH 10% di Tengah Badai MSCI

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyampaikan keterangan terkait update perkembangan pasar modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
5/11/2026, 16.11 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai fundamental emiten di pasar modal Tanah Air saat ini masih terjaga. Hal itu berlangsung di tengah berbagai dinamika yang terjadi setelah lembaga penyedia indeks global menyoroti pasar saham domestik sejak awal tahun lalu.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, sederet indikator pasar modal masih menunjukkan pertumbuhan positif. Kinerja fundamental emiten di BEI masih baik. Bahkan, nilai transaksi harian tumbuh lebih dari 10%, sementara jumlah investor meningkat lebih dari 50%.

“Kalau kita melihat di satu sisi, pertumbuhan di pasar modal kita masih baik. Secara fundamental, kinerja perusahaan tercatat di bursa masih baik. Nilai transaksi harian masih tumbuh di atas 10%. Jumlah investor kita tumbuh lebih dari 50%,” ujar Jeffrey dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor jumlah investor di pasar modal meningkat sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd). Penambahan investor tercatat sebanyak 1,38 juta pada Oktober 2026, secara bulanan (month to month), sehingga total jumlah investor telah mencapai angka 33,55 juta atau telah tumbuh signifikan sebesar 64,75% ytd. 

Adapun likuiditas perdagangan di pasar saham juga mengalami peningkatan dengan angka rata-rata nilai transaksi harian atau RNTH pasar saham tercatat sebesar Rp 16,31 triliun pada Oktober 2026. Angka ini meningkat dari sebelumnya sebesar Rp 14,94 triliun pada September 2026, sehingga secara ytd, RNTH tercatat sebesar Rp 20,34 triliun. 

Kendati demikian, Jeffrey mengakui pasar modal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah sorotan penyedia indeks global (global index provider) terhadap aspek transparansi, kredibilitas, dan tata kelola pasar modal Indonesia.

Menurut dia, BEI bersama OJK serta self regulatory organizations (SROs) lainnya berkomitmen untuk memperbaiki ketiga aspek tersebut. Termasuk di antaranya meningkatkan likuiditas dan efektivitas pengawasan pasar.

Dari sisi transparansi, BEI telah mengungkapkan informasi kepemilikan saham di atas 1% serta menyediakan data investor dengan tingkat perincian yang lebih tinggi. Upaya tersebut akan terus dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi di pasar modal.

“Yang akan kita lanjutkan terus dengan kualitas transparansi yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, untuk meningkatkan likuiditas, BEI akan terus mendorong pendalaman pasar dari sisi permintaan maupun penawaran. Bursa juga berupaya memperbaiki mekanisme pembentukan harga (price discovery) agar perdagangan saham berlangsung lebih efisien.

Dari sisi pengawasan, Jeffrey mengatakan BEI berkomitmen meningkatkan efektivitas pemantauan transaksi. Salah satunya melalui penerapan sistem real-time flagging untuk mendeteksi indikasi pelanggaran dalam perdagangan saham.

Jeffrey menilai kombinasi peningkatan transparansi, likuiditas dan efektivitas pengawasan akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri