Bursa saham Amerika Serikat anjlok pada perdagangan Kamis (5/11). Kejatuhan ini dipicu kekhawatiran investor bahwa kemenangan Partai Demokrat atas kongres dalam pemilu sela dapat memperlambat ekspansi pusat data (data center) dan investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Negeri Paman Sam.

Indeks Nasdaq Composite merosot 5,52 persen dan ditutup di level 24.315, S&P 500 turun 4,36 persen ke level 7.353,73, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 3,44 persen ke posisi 51.523,06. Harga saham perusahaan semikonduktor dan yang terkait dengan pusat data AI jatuh paling parah.

Kepala Investasi Orion Tim Holland mengatakan, investor memilih untuk menarik diri dari pasar hingga memeroleh gambaran lebih jelas mengenai dampak hasil pemilu sela terhadap belanja modal atau capital expenditure (capex) AI.

Menurut dia, investasi AI selama sekitar tiga tahun terakhir menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi AS. "Investor ingin melihat arah kebijakan dan sikap Partai Demokrat, yang meraih kemenangan besar di tingkat federal maupun negara bagian," ujar Holland dikutip dari CNBC, Jumat (6/11).

Kemenangan Partai Demokrat atas kedua kamar Kongres AS dalam pemilu sela pada 3 November memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. Kongres yang dikuasai Demokrat diperkirakan akan memperketat pengawasan terhadap perusahaan AI dan ekspansi pusat data, terutama terkait konsumsi energi, dampak lingkungan, serta penolakan masyarakat di sekitar lokasi proyek.

Senator independen Bernie Sanders dari Vermont, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat di Senat, juga menyerukan moratorium nasional pembangunan pusat data. Dalam unggahan di media sosial X pada Rabu (4/11), Sanders menulis bahwa masyarakat AS tidak ingin para oligarki perusahaan teknologi besar merusak lingkungan, menghilangkan lapangan kerja, dan mengancam masa depan umat manusia.

Investor juga mencermati hasil pemilihan gubernur di sejumlah negara bagian yang berpotensi memperlambat pembangunan pusat data. Di Texas dan Georgia, kandidat Partai Demokrat yang menang dalam pemilihan gubernur sebelumnya mengusung pembatasan hingga moratorium pembangunan pusat data. Kemenangan mereka memperkuat posisi kelompok yang menentang ekspansi fasilitas tersebut.

Saham perusahaan pembuat chip AMD, Broadcom, Nvidia masing-masing anjlok 17 persen, 10 persen, 9 persen pada Kamis (5/11). Saham produsen chip lainnya, Qualcomm, juga merosot 9 persen meskipun perusahaan melaporkan kinerja laba yang melampaui ekspektasi pasar. Sedangkan saham perusahaan perangkat lunak Oracle turun hampir 7 persen.

Saham perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan generasi baru alias neocloud juga terkoreksi. CoreWeave turun hampir 10 persen, sedangkan Nebius dan Iren masing-masing merosot sekitar 15 persen dan hampir 17 persen. Di sisi lain, saham produsen penyimpanan data berbasis memori flash, Sandisc amblas lebih dari 22 persen. 

Tekanan jual pada Kamis (5/11) begitu kuat hingga merembet ke sektor lain di pasar saham. Saham perusahaan industri Caterpillar turun 6 persen, sedangkan saham sektor keuangan JPMorgan terkoreksi 4 persen. Saham perusahaan kedirgantaraan Boeing dan produsen pakaian olahraga Nike juga terkoreksi masing-masing 2 persen.

Kepala Investasi Truist Wealth, Keith Lerner, mengatakan tekanan jual yang awalnya terkonsentrasi pada saham teknologi kini mulai meluas ke pasar secara keseluruhan. "Berbeda dengan perdagangan kemarin, kini tekanan jual saham teknologi, dengan skala penurunannya, mulai merambat ke pasar yang lebih luas," kata Lerner.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri