Goldman Sachs Prediksi Harga Emas Sentuh Rp 43,2 Juta per Ounce

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Goldman Sachs memprediksi harga emas bisa menyentuh US$2.700 per ounce atau sekitar Rp 43,2 juta per ounce pada akhir tahun ini.
Penulis: Hari Widowati
18/4/2024, 10.36 WIB

Harga emas mendekati rekor tertinggi sepanjang masa karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kemungkinan penundaan penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat. Goldman Sachs memprediksi harga emas bisa menyentuh US$2.700 per ounce atau sekitar Rp 43,2 juta per ounce pada akhir tahun ini.

Harga emas di pasar spot naik tipis 0,1% menjadi US$2.387,12 (Rp 38,19 juta) per ounce, pada Rabu (17/4). Angka tersebut hanya selisih US$50 (Rp 800 ribu) dari level tertinggi sepanjang masa yang dicapai minggu lalu. Sementara itu, harga kontrak emas berjangka AS turun 0,2% menjadi US$2.402,.50 (Rp 38,44 juta) per ounce di New York.

Dalam risetnya pekan ini, Goldman Sachs menyebut bahwa harga emas relatif stabil setelah rilis data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia ini tidak digerakkan oleh faktor makro seperti biasanya. Selama dua bulan terakhir, harga emas sudah melejit sekitar 20%.

"Nilai wajar tradisional emas akan menghubungkan katalis yang biasa - suku bunga riil, ekspektasi pertumbuhan, dan dolar AS - dengan arus dan harga," tulis Goldman Sachs dalam riset tersebut, seperti dikutip Investing.com, Rabu (17/4).

Goldman menyebut tidak satu pun dari faktor-faktor tradisional tersebut yang menjelaskan kecepatan dan skala pergerakan harga emas sepanjang tahun ini. Namun, substansi dari model harga emas tradisional bukanlah fitur baru atau indikasi yang menunjukkan bahwa harga emas sudah terlalu mahal.

Goldman melihat bahwa sebagian besar kenaikan harga emas sejak pertengahan 2022 telah didorong oleh faktor-faktor tambahan baru. Termasuk, akselerasi yang signifikan dalam akumulasi bank-bank sentral di pasar negara berkembang serta pembelian retail di Asia.

Faktor-faktor tersebut tetap ditegaskan dengan baik oleh kebijakan makro dan geopolitik saat ini. "Selain itu, dengan pemangkasan suku bunga The Fed yang masih menjadi katalis untuk melunakkan angin sakal ETF di akhir tahun, dan risiko yang mengikuti dari siklus pemilu AS dan pengaturan fiskal, kecenderungan bullish emas tetap jelas," kata Goldman Sachs.

Bank investasi itu melihat sentimen positif terhadap harga emas akan terus berlanjut. Mereka meningkatkan proyeksi harga emas ke level US$2.700 per ounce pada akhir tahun ini. Pada proyeksi sebelumnya, Goldman memperkirakan harga emas akan menyentuh US$ 2.300 (Rp 36,8 juta) per ounce.